Rabu, 21 Juni 2017

OBOR HARMONIS

   Ketika saya beranjak pada usia 6 tahun. Saya ingat ketika itu kaka mengajak saya berjalan keliling kampung sembari memegang obor di tangan kanan. Kiri, kanan, depan, belakang, semuanya terhiasi hiasi obor di depan rumah.

   Malam ke-26 Ramadan. Malam kami menyambut lailatul qadar. Berjalan dengan lantunan kalimat takbir dan penuh kebahagiaan. Walau sebetulnya kami tau belum tentu pada malam ini adalah lailatul qadar. Namun, inilah kami dan budaya serta adat-istiadat.

  Seiring berjalannya waktu, dipengaruhi oleh modernisasi jaman, tradisi kami mulai redup. Kami bahkan lupa akan 26 malam ramadan kala itu. Hanya asik main gadged, atau sekedar jalan tak karuan.

  Berlangsung beberapa waktu dengan keredupan yang sama. Hanya terdengar riuk petasan dan kembang api saja.

    Risau kami akan keadaan membuat kami sekelompok pelajar yang tak terlau terpelajar mencoba membangkitkan aura kema'rufan itu.

   Alhasil, malam ini di tanggal 21 juni bertepatan dengan malam ke-26 ramadan, tradisi yang sempat redup akhirnya kembali menggema. Mencuat semangat generasi muda (anak kampong) yang berujung pada gema takbir dan pawai obor keliling kampung (lufu gam).

   Walau keberadaan ku saat ini berjarak dengan kampong. Tapi, aku tetap ada berasama anak-anak kampong dan bersorak gembira malam ini.
  
    Terima kasih untuk tidak melupakan tradisi orang tatua. Jadikan budaya dan adat-istiadat sebagai identias diri kita.

#anakkampong
#masabaca
#bukulasa

CATATAN DIAKHIR JUNI

   Semua orang punya mimpi. Punya pengharapan akan masa depan. Angan akan kebahagiaan dan ketentraman. Tapi, ada berbagai macam jalan yang harus dilewati. Entah jalan sunyi atau jalan ramai.

   Dari dua jalan tersebut dia memilih jalan yang sunyi. Jalan yang asing untuk sebagian orang. Jalan kesendirian dengan kertas dan pena sebagai teman.

    Menulis yang ia pilih. Dengan latar belakan sebagai mahasiswa sastra. Sering Ia berfikir, untuk apa kita berada dilingkungan sastra, tapi kita tidak punya karya sastra. Hanya bisa menilai, mengkritik, dan mengoceh karya orang lain.

   Gus Dur menggugat Tuhan. Gus Mus menggugat Indonesia. Tapi, kita malah menggugat mereka salah.

  Memang benar karya yang mereka buat dan dipublikasi, bukan lagi milik mereka. Tapi, milik kita sebagai pembaca, penilai, peninjau, bahkan pengkritik. Tapi, pernah kita pikirkan untuk apa tujuan kita melakukan itu? Hanya sekedar melakukan pembenaran.

   Kebenaran adalah sebuah cermin besar yang di jatuhkan oleh Tuhan ke bumi. Setiap dari kita mengambil sekeping kebenaran itu. Dan untuk apa kita saling beradu untuk melakukan pembenaran. Saling menentang bahkan bertikai mengatasnamakan Tuhan.
                         ****
    Ketika ada yang bertanya apa tujuanmu menulis?
    "Bagiku menulis bukanlah hanya sekedar menuangkan gagasan diatas kertas, bukan untuk kita tetap abadi dengan karya atau untuk diperjual-belikan. Aku menulis karena aku sadar aku masih bodoh" jawabnya.

    Orang akan bingung dengan jawaban seperti itu. Entah apa maksudnya. Mungkin kita butuh Wiliam Shaksaper untuk menafsirkan itu. Atau dengan pembenaran kita sendiri dan menganggap Dia benar-benar bodoh.

   Orang idealis memang sukar dengan jalan yang ramai. Tapi bagi mereka kesunyian adalah kebisingan yang luar biasa.
                        ****
     Mimpinya adalah kebahagiaan. Tapi bukan berarti hanya dirinya sendiri. Tapi untuk semesta alam.

    Kejenuhan terkadang membuatnya karam. Mimpinya mungkin terlalu tinggi. Tapi, tak ada salahnya juga. Tnggi mimpinya mungkin tingginya sejengkal dari tanah..

   Jenuh juga berada di jalan sunyi, yang dipikirkan mungkin masa depan. Seandainya masa depan bisa dilihat dan dinikmati sekarang. Dia tidak akan pernah berusaha. Karena itulah. Biarkan masa depan menjadi misteri sekaligus kejutan kala tiba waktunya.

   Dia pernah menyerah, kecewa bahkan kaku untuk beraktifitas. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang membangkitkan itu. Masih menjadi rahasia apa atau siapa. Manusiakah? Atau benda?
Tapi dia takan terjun ke lubang yang sama.

   "Hanya orang bodoh yang mau kembali pada kebodohannya, dan aku belum terlalu bodoh untuk kembali. Meninggalkan hal terbaiku saat ini. Kamu"
      Kurang lebih seperti itu.

     Mungkin yang membaca ini akan kebingungan. Alur, maksud, serta tujuan tulisannya. Karena saat menulis pun dia kebingungan.

    Sepertinya, dia sengaja mumbuatnya. Agar bisa dikritik pembaca. Tidak jenius, kreatif, atau imajinatif. Dia lebih pada apa adanya. Menyalurkan isi kepala dengan caranya sendiri. Dengan warna yang berbeda.
                       ****

     Bicara soal perbedaan. Dia juga mengalami perbedaan. Tapi, kalau mau dibahas nanti dibilang dia alay. Katanya perbedaan itu takan bisa disatukan. Perbedaan adalah perbedaan.

     Dia menjadikan perbedaan adalah awal dari penyatuaan. Kita sebagai manusia secara detil berda. Adakah manusia yang memiliki sidik jari yang mirip?

   "Perbedaan bukan perpisahan. Bukan akhir dari segalanya. Bukan sebagai bahan untuk memberi entitas. Segala hal yang berbeda jika disatukan, maka akan ada sesuatu hal yang baru. Biru dan kuning jika dipadukan menghasilkan hijau. Menghasilkan sebuah warna baru"

    Hargailah perbedaan sebagai persamaan. Mungkin itu maksudnya.
                     ****
   Mungkin samapi disini, Kita sudah lari jauh dari topik cerita. Begitulah orangnya. Dinamis tidak menjadikan tema sebagai fokus. Sering memadukan satu dengan lainnya. Bahkan hal yang banyak menganggap tidak masuk akal. Tapi, itukan akal mereka, bukan dia.

    Pelukis menggunakan cat dan kanvas untuk melukis seseorang. Dia hanya perlu merangkai kata untuk melukis. Kali ini dia melukis diri sendiri. Hal yang jarang dia lakukan sebelumnya. Sepertinya ada sesuatu. Sesuatu yang menyentuhnya untuk melukis diri sendiri. Hujan kah, senja atau apa. Sebenarnya hari ini..!!
Sebaiknya tidak dilanjutkan.

    Tokoh dibalik aktifitasnya sekarang ialah Jostein Gaarder. Tapi tulisan ini bukan  dipersembahkan untuk si penulis ulung tersebut tapi, ada seseorang. Orang tersebut pasti sudah banyak yang tau. Karena dia sudah berkali-kali melukisnya. Apa harus main tebak-tebakan. Cluenya adalah, wanita, E, dan D.

    Sekarang sudah sangat jauh, dan orang sudah mulai kebingungan dengan cerita ini. Sepertinya kita harus jeda dulu. Kita akan lanjutkan nanti, saat gema kebingungan pembaca hilang terlebih dahulu.
                      ****

   "Untuk hari ini. Hari dimana aku bertambah tua. Hari aku ini. tidak butuh kado, jam tangan, handpone baru, ataupun ucapan selamat. Yang ku butuhkan ialah kamu duduk di sampingku dan kita akan bercerita, sambil minum kopi atau capucino dingin mungkin. Tapi, jika kesemuanya dikasih. Aku akan lebih berterima kasih"

  "Terima kasih untuk semuanya. Untuk 27 November tahun lalu, hingga hari ini" (syamalila).

Jumat, 16 Juni 2017

IMAJI SUNYI CLARA

   Hembusan angin yang dingin mulai terasa perih hingga air yang riak tak mau bersahabat dengannya. Imaji Clara pecah saat duduk di tepi bukit samping rumah dan memandangi bintang-bintang. Walau bulan tak diizikan untuk keluar, tapi bintak sudah cukup untuk menerangi malam ini.
    Seandainya ada bintang jatuh malam ini. Clara akan berharap ada seseorang yang datang. Mungkin akan duduk disampingnya. Bangku panjang kosong yang dia lebihkan untuk seseorang.
   Imajinasi Clara bahkan menembus angkasa. Barangkali ada malaikat disana.
   "Kalau saja ada malaikat. Akan kupatahkan sayapnya. Agar dia tak lagi terbang dan tetap disini bersamaku"

    Hanya ditemani dengan jeritan jangkrik dan burung-burung malam. Tak membuat Clara bosan untuk tetap duduk.
     Hatinya mungkin terkurung oleh imaji sunyi malam ini. Tak bisa jadi nyata. Kalau saja jadi nyata takan mungkin berlangsung lama.
      "Begitu indah. Begitu sulit untukku biarkan"

     Mungkin saat ini Clara belajar untuk membiarkannya pergi. Hal nyata yang hanya akan jadi mimpi-mimpi nantinya.
     Dia butuh warna-warni untuk menghiasi disini. Menghiasinya yang terkurung imaji sunyi.
     "Biarkan anganku terbang dan menghilang bersama malam. Takan ada yang ku sesali. Andaikan waktu bisa berhenti. Akan ku ungkapkan"
     
    Sepertinya sudah larut dan Clara mestinya masuk ke rumah karena angin malam yang semakin menusuk relung tulang.
     Terkurung oleh imajinya seorang diri membuatnya hanya berhayal dengan imajinasi yang pecah dan liar. Mungkin dia butuh seseorang. Tapi, dia takut. Takut dengan kenyataan.

    Saat tidurpun dia melanjutkan dengan mimpi yang sama. Tidur dengan hanya ditemani lampu pijar kuning dan jam beker untuk menjaganya terlelap dan tidak terlambat dipagi hari saat akan menjemput fajar

    Clara sempat takut untuk berbaring. Takut dia akan terbang bersama malaikat dan tak lagi ada di bumi. Tapi, dia merasa yakin karena deringan telpon yang menandakan ada seseorang yang datang esok hari.
Yang akan mewarnai imajinya bersama jingga fajar esok. Redupan mata Clara seakan mengahiri semuanya hari ini. Terlelap dengan penuh ingin.

Sabtu, 03 Juni 2017

NOSTALGIA SENJA

    Jam 1 siang  adalah waktu terbaik untuk istirahat bagi sebagian orang. Kebanyakan menghabiskan menghabiskan waktu disaat mentari tepat di atas kepala untuk berlayar ke negeri mimpi. Tapi, Fahmi menjadikan waktu tengah hari untuk buku album dan pena sembari menulis syair-syair. dipenuhi dengan metafora kata di bawah pohon pinggir rumah.

     Remaja 19 tahun ini gemar sekali menulis syair. Mungkin karena terekspresi oleh W. S. atau C. A. Orang-orang memanggilnya si alay karena beberapa syair yang dia tempel di mading kampus telihat sangat romantis.

      Selain menuis syair ternyata Fahmi juga penikmat senja. Dia juga menempelkan beberapa foto kreasinya saat sanja mengadu.

       Teringat Fahmi kalau hari ini adalah hari spesial untuk dia dan Sabilla. Dan sepertinya dia harus siapkan sesuatu untuk kekasihnya itu.
    

     "Bill.. lagi di mana, bentar lihat senja yukk.. di pantai Tagalaya"
       Tanya Fahmi.
      "Aku lagi di kampus. Iya, boleh. Tapi, aku masih harus kuliah, kira-kira selsainya mungkin jam 5 atau 6"
  
      "Gak apa-apa. Aku tungguin deh.. bisakan"

       "Mmm. Gimananya.. aku usahain deh"

       Jawab Sabilla dengan ragu.

       "Yasudah.. ketemunya langsung di pantai ya, seperti biasa, tepat di bawah pohon ketapang"

       Tuutt tuutt tuutt. Sabilla mematikan telepon tanpa basasi. Jidat Fahmi terlihat mengerut. Padahal ini anniversarr6y mereka yang ke 1th.
        "Kok aneh. Biasanya dia nggak langsung matikan telepon saat masih bercakap. Apa dia lupa ya"
         Gumam Fahmi sembari bergegas menuju pantai.

          Jarum jam sudah menunjukan pukul 6 tepat. Fahmi sudah 2 jam menunggu Sabilla di pantai. Namun, Sabilla belum lagi datang. Fahmi terlihat sedikit kecewa karena beberapa beberapa menit lagi senja akan muncul dan Sabilla belum lagi duduk di sampingnya.

        Beberapa kali Fahmi menelpon Sabilla, tapi nomornya tidak bisa di hubungi. Mungkin hpnya kehabisan batrei atau dia sengaja mematikan hpnya biar nggak diganggu.

         Stengah jam berlalu sang senja mulai muncul dan Sabilla belum lagi tiba.
         "Kok dia tega nggak datang di saat seperti ini. Padahal ini senja terbaik dan tak ada secuil awan pun yang menutupi"
          Ceracau Fahmi sambil melempar batu ke pantai, pertanda kecewa.

        Sabilla belum juga datang dan lima menit lagi senja akan berlalu. Fahmi pun sudah memasukan album dan penanya kedalam tas dan bersiap untuk pulang. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat dari jauh seseorang berlari ke arahnya dan ternyata itu adalah Sabilla.

        " Fahhmii.. maaf aku terlambat. Aku nggak lupa anniversarry kita kok. Tadi Aku harus berlari dari kampus ke sini. Aku gak bisa naik ojek. Hp sama dompetku hilang di kantin. Padahal kuliah ku sudah selesai jam 5 tadi Dan... haahh.."
         Cerita Sabilla sambil menopang lutunya karena kelelahan saat berlari sekitar setengah kilo dari kampus menuju pantai.

         "Trus kameranya mana. Kok gak bawa kamera. Ini kan moment terbaik kita"
          Tanya Sabilla pada Fahmi dan terlihat sedikit kecewa.

        " siniii. Duduk dulu"
        Pinta Fahmi
      
        Sabilla pun duduk di sampinya dengan raut wajah kecewa.

        " tau nggak kenapa aku gak bawa kamera. Aku sengaja.
Terkadang ada moment yang terlalu indah untuk diabadikan dengan kamera, moment sepeti ini. Cukup kita abadikan dengan mata dan hati saja"
         Jelas Fahmi sambil menepuk pelan bahu Sabilla dan memberikan sebuah novel karangan seorang penulis terkenal eropa yang berjudul "Nostalgia Senja"

       Sabilla pun tersenyum.

        "Betul juga, disayangin juga kalau diabadikan dengan kamera tapi gak pake hati percuma saja nggak kerasa. Kalau fotonya hilang abis deh gak ada yang bisa di kenang"
           Sahut Sabilla.

         Mereka pun menikmati jingganya senja dengan penuh hikmah akan keagungan sang pencipta. Walau hanya berlalu beberapa detik. Tapi, itu sudah cukup untuk ditulis di buku album dan di tempel ke mading seperti biasanya.

SECANGKIR KOPI

  Writer by: Junfahriel

Ada orang yang bilang kalau hidup itu haruslah senang dan jangan dibuat susah. Ada juga yang bilang kita harus punya segalanya untuk bahagia. Tapi aku hanya butuh secangkir kopi untuk bahagia.
    Secangkir kopi untuk ku hari ini, besok, lusa, dan hari-hari yang akan datang. Hitam sepat, pahit dan sedikit saja rasa manisnya. Ya mungkin takarannya 2x1. 2 untuk kopi dan 1 untuk gula.
     Secangkir kopi menamani malam ini, dipadukan dengan rokok mungkin bisa lebih nikmat, ditambah dengan suasana sejuk ramadan. Sambil mendengar lantunan ayat suci yang keluar dari corong surau, seruput perlahan hingga menuju ampas. Mungkin butuh sekitar 3 jam untuk secangkir kopi.
     Ada yang bilang kalau kopi bisa merusak jantung, bisa mengganggu pencernaan. Bahkan ada yang bilang kopi itu ada sianida. Dikira kopinya jesika apa.
       Secangkir kopi untuk kebahagiaan. Tapi, ingat kalao udah imsak jangan minum lagi, nanti puasanya gak sah.
      Berekspresi dengan cara sendiri mungkin lebih baik. Dengan hal-hal sedikit gila tapi bukan orang gila juga. Yang penting kita tau apa yang kita lakukan.