Semua orang punya mimpi. Punya pengharapan akan masa depan. Angan akan kebahagiaan dan ketentraman. Tapi, ada berbagai macam jalan yang harus dilewati. Entah jalan sunyi atau jalan ramai.
Dari dua jalan tersebut dia memilih jalan yang sunyi. Jalan yang asing untuk sebagian orang. Jalan kesendirian dengan kertas dan pena sebagai teman.
Menulis yang ia pilih. Dengan latar belakan sebagai mahasiswa sastra. Sering Ia berfikir, untuk apa kita berada dilingkungan sastra, tapi kita tidak punya karya sastra. Hanya bisa menilai, mengkritik, dan mengoceh karya orang lain.
Gus Dur menggugat Tuhan. Gus Mus menggugat Indonesia. Tapi, kita malah menggugat mereka salah.
Memang benar karya yang mereka buat dan dipublikasi, bukan lagi milik mereka. Tapi, milik kita sebagai pembaca, penilai, peninjau, bahkan pengkritik. Tapi, pernah kita pikirkan untuk apa tujuan kita melakukan itu? Hanya sekedar melakukan pembenaran.
Kebenaran adalah sebuah cermin besar yang di jatuhkan oleh Tuhan ke bumi. Setiap dari kita mengambil sekeping kebenaran itu. Dan untuk apa kita saling beradu untuk melakukan pembenaran. Saling menentang bahkan bertikai mengatasnamakan Tuhan.
****
Ketika ada yang bertanya apa tujuanmu menulis?
"Bagiku menulis bukanlah hanya sekedar menuangkan gagasan diatas kertas, bukan untuk kita tetap abadi dengan karya atau untuk diperjual-belikan. Aku menulis karena aku sadar aku masih bodoh" jawabnya.
Orang akan bingung dengan jawaban seperti itu. Entah apa maksudnya. Mungkin kita butuh Wiliam Shaksaper untuk menafsirkan itu. Atau dengan pembenaran kita sendiri dan menganggap Dia benar-benar bodoh.
Orang idealis memang sukar dengan jalan yang ramai. Tapi bagi mereka kesunyian adalah kebisingan yang luar biasa.
****
Mimpinya adalah kebahagiaan. Tapi bukan berarti hanya dirinya sendiri. Tapi untuk semesta alam.
Kejenuhan terkadang membuatnya karam. Mimpinya mungkin terlalu tinggi. Tapi, tak ada salahnya juga. Tnggi mimpinya mungkin tingginya sejengkal dari tanah..
Jenuh juga berada di jalan sunyi, yang dipikirkan mungkin masa depan. Seandainya masa depan bisa dilihat dan dinikmati sekarang. Dia tidak akan pernah berusaha. Karena itulah. Biarkan masa depan menjadi misteri sekaligus kejutan kala tiba waktunya.
Dia pernah menyerah, kecewa bahkan kaku untuk beraktifitas. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang membangkitkan itu. Masih menjadi rahasia apa atau siapa. Manusiakah? Atau benda?
Tapi dia takan terjun ke lubang yang sama.
"Hanya orang bodoh yang mau kembali pada kebodohannya, dan aku belum terlalu bodoh untuk kembali. Meninggalkan hal terbaiku saat ini. Kamu"
Kurang lebih seperti itu.
Mungkin yang membaca ini akan kebingungan. Alur, maksud, serta tujuan tulisannya. Karena saat menulis pun dia kebingungan.
Sepertinya, dia sengaja mumbuatnya. Agar bisa dikritik pembaca. Tidak jenius, kreatif, atau imajinatif. Dia lebih pada apa adanya. Menyalurkan isi kepala dengan caranya sendiri. Dengan warna yang berbeda.
****
Bicara soal perbedaan. Dia juga mengalami perbedaan. Tapi, kalau mau dibahas nanti dibilang dia alay. Katanya perbedaan itu takan bisa disatukan. Perbedaan adalah perbedaan.
Dia menjadikan perbedaan adalah awal dari penyatuaan. Kita sebagai manusia secara detil berda. Adakah manusia yang memiliki sidik jari yang mirip?
"Perbedaan bukan perpisahan. Bukan akhir dari segalanya. Bukan sebagai bahan untuk memberi entitas. Segala hal yang berbeda jika disatukan, maka akan ada sesuatu hal yang baru. Biru dan kuning jika dipadukan menghasilkan hijau. Menghasilkan sebuah warna baru"
Hargailah perbedaan sebagai persamaan. Mungkin itu maksudnya.
****
Mungkin samapi disini, Kita sudah lari jauh dari topik cerita. Begitulah orangnya. Dinamis tidak menjadikan tema sebagai fokus. Sering memadukan satu dengan lainnya. Bahkan hal yang banyak menganggap tidak masuk akal. Tapi, itukan akal mereka, bukan dia.
Pelukis menggunakan cat dan kanvas untuk melukis seseorang. Dia hanya perlu merangkai kata untuk melukis. Kali ini dia melukis diri sendiri. Hal yang jarang dia lakukan sebelumnya. Sepertinya ada sesuatu. Sesuatu yang menyentuhnya untuk melukis diri sendiri. Hujan kah, senja atau apa. Sebenarnya hari ini..!!
Sebaiknya tidak dilanjutkan.
Tokoh dibalik aktifitasnya sekarang ialah Jostein Gaarder. Tapi tulisan ini bukan dipersembahkan untuk si penulis ulung tersebut tapi, ada seseorang. Orang tersebut pasti sudah banyak yang tau. Karena dia sudah berkali-kali melukisnya. Apa harus main tebak-tebakan. Cluenya adalah, wanita, E, dan D.
Sekarang sudah sangat jauh, dan orang sudah mulai kebingungan dengan cerita ini. Sepertinya kita harus jeda dulu. Kita akan lanjutkan nanti, saat gema kebingungan pembaca hilang terlebih dahulu.
****
"Untuk hari ini. Hari dimana aku bertambah tua. Hari aku ini. tidak butuh kado, jam tangan, handpone baru, ataupun ucapan selamat. Yang ku butuhkan ialah kamu duduk di sampingku dan kita akan bercerita, sambil minum kopi atau capucino dingin mungkin. Tapi, jika kesemuanya dikasih. Aku akan lebih berterima kasih"
"Terima kasih untuk semuanya. Untuk 27 November tahun lalu, hingga hari ini" (syamalila).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar