Jumat, 01 September 2017

KEBENARAN KATANYA

   Agama merupaka suatu sistem kepercayaan yang diyakini oleh setiap pngikutnya. Dalam setiap agama selalu ada aturan-aturan yang mengikat pengikutnya dan aturan itu mutlak dan harus di patuhi  setiap pemeluknya. Doktrinitas dalam agama selalu dilakukan dengan selalu megklaim dan menjastifikasi sistem kepercyaan yang satu dan lainya, padhal  jika di telaah lebih kedalam ternyata yang dituju oleh setiap agama hanyalah satu, Tuhan.
Kebernaran seringkali di pertentangkan oleh setiap agama untuk menyakinkan setiap pemeluknya. Dan hal itu semata-mata hanya untuk menambah kuantitas pemeluknya. Apakah agama adalah sebuah organisasi yang memiliki program untuk menambah anggota? Sebuah pertanyaan tidak masuk akal yang harus di jawab oleh setiap agama yang mempertahankan kenenaran mereka dan menganggap kebenaran mereka yang paling benar dan diyakini pemeluknya, padahal pemeluk agma lain tidak meyakini kebenaran mereka.
Islam dengan para imam-imam besarnya sebagai pemimpin agama, Kristen dengan paulus dan dan para pendetanya sebagai pemimpinnya, budha dengan para biksunya dan lain-lain semata-mata hanya untuk menyampaikan kebenaran dari kepercayaan mereka. Sebenarnya, apa kebenaran yang diyakini oleh semua umat dan tak ada satupun yang meragukan kebenaran tersebut?
Dalam sebuah pertemuan akbar di wilaya timur eropa dipertemukan berbagai pemuka-pemuka besar berbagai agama untuk memproklamasikan kebenaran-kebenaran agama mereka yang mereka anggap paling benar. Pemuka Kristen mulai melontarkan berbagai kebenarannya “Kristen adalah agama kebenaran yang dibawa yesus, setiap dosa yang dilakukan oleh pengikut Kristen akan ada yang namanya penebusan dan penghapusan dosa oleh Bapa ”. Sontak umat islam merespon bahwa dosa tetaplah dosa dan hanya bisa ditebus di akhirat (neraka). Begitu pula agama lainya dengan tanggapan yang berbeda-beda.
Kemudian giliran umat islam memproklamasikan kebenaranya “ islam adalah agama kebenaran, islam mempercyai bahwa nantinya akan ada hari kiamat sebagai tanda berakhinya dunia”.umat Kristen, budha, yahudi, dan lainya langsung membantah bahwa itu tidak benar karena tidak ada yang namanya kiamat atau akhir dari dunia, karena dunia akan terus berlanjut karena adanya regenerasi manusia yang berkelanjutan. Islam kembali membanta dengan melontarka beberapa ayat Al-Quran untuk meyakinkan mereka bahawa kedatangan kiamat sebuah kebenaran yang harus diyakini. Tetap saja mereka tidak meyakini dan mempertahankan kebenarnya.
Sampai pada yahudi yang menyatakan bahwa” yahwe tuhan mereka dan pada suatu waktu dia akan turun dan menyelamatkan mereka dari segala keburukan dan memusnahkan kaum yang menistakanya” lagi-lagi tidak ada satu agama pun yang mempercayainya dan selalu menentang kebenran tersebut. Begitupun dengan budha, hindu, konghuchu dan lainya yang terus menyampaikan kebenaran-kebenaran mereka, dan selalu dipatahkan oleh agama lainya.
Sebenarnya yang apa yang diinginkan oleh setiap agama, apa mereka menginkan agal seluruh umat manusia mengikuti kebenarannya, sedangkan kebenaran mereka tidak bisa dibuktikan secara real dan logis. Hanya saja kelihayan mereka dalam melakukan doktrinitas sehingga para pemeluknya dengan mudah mengikutinyanya. Dan apa sebenarnya kebenaran yang di akui dan diyakini oleh setiap umat yang tidak ada satu manusia pun yang meragukan hal itu?
Setelah sekian lama saling berdebat dan menjastifikasi antara satu dengan lainya, suasana pun memanas dan hampir menimbulkan konflik.
Kemudian muncul seorang pak tuah berambut kusam berjanggut panjang “ Aku Elias, aku tidak mempercayai agama apapun (atheis) tetapi aku berTuhan, dan Tuhanku muak melihat kalian mempertentangkan kebenaran kalian yang pada akhirnya  tidak ada yang mau meyakininya” untaian si Elias. “kalau  begitu kebenaran apa yang kau punya pak tuah sehingga kau tidak meyakini kebenaran kami ??” respon dari berbagai pemuka agama.
“Sesunggunya satu-satunya kebenaran yang di akui dan diyakini oleh seluruh umat manusia ialah KEMATIAN dan tiada satu makhluk pun yang meragukan hal itu” jawab Elias. Mereka pun terdiam dan hanya memandangnya dengan pikiran kosong.!!!

Penulis : Junfahriel

Selasa, 15 Agustus 2017

DIRGAHAYU ANAK KAMPONG

   Saat gembala sunyi mulai menapak dijalanan dan para serdadu fajar berjeloteh di singgahsana. Anak-anak kampong bersila sembari menuangkan gagasan pada saat itu 27 juli 2017.

   Pada selembar kertas mereka berbicara dan mengkritik. Bicara tentang kemerdekaan dan keberadaan. Mengusung strategi penyatuan masyarakat dan pembaharuan dalam segala hal.

    Menanti jalan sederhana dalam peringatan. Walau berjalan dalam sepi tanpa sumbangsi kebanyakan orang.

   Malam itu Ijal kemudian membuka bicara tentang eksistensi, Ijan mengatur soal pergerakan dan Abjan mengosulidasi para kawan untuk bergabung, serta Rizal sedikit berkomedi ditengah-tengah keseriusan, katanya biar tidak tegang.

    Wacana mulai mengalir jauh hingga membentuk sebuah kesepakatan. Mengusung struktur kecil sebagai pawang koordinasi.

    Berselang beberapa hari anak kampong mulai bersua untuk mengolak jiwa dan raga. Kecaman dan kontradiksi oleh sebagian orang dijadikan motivasi dan pelajaran.

     Kata ijal.
    "Itikat baik pasti ada jalan"
     Kata ijan
    "awali dengan hati yang suci"
     Kata ilos
     "Ketika sudah memulai harus berjalan sampai akhir"
      Kata abjan
      "Saatnya berkarya dan mengingat sejarah"

    Kesemuanya kita rangkum dalam satu slogan
     "Maku waje, maku sogise, maku gosa laha-laha se soninga ngone na budaya"

    Slogan penyatuan dan pengingat akan budaya kearifan. Mengingat akan masa lalu, masa kedatangan para tatua hingga masa perjuangan sang merah putih.

    Tanah dodomi anak kampong, tanah adat se atoran, tanah kita semua dibesarkan.

   berkomitmen menuju perubahan
Bekerjasama untuk indonesia. Dirgahayu indonesia, dirgahayu merah putih, dirgahayu anak kampong.

Catatan Anak kampong

Rabu, 21 Juni 2017

OBOR HARMONIS

   Ketika saya beranjak pada usia 6 tahun. Saya ingat ketika itu kaka mengajak saya berjalan keliling kampung sembari memegang obor di tangan kanan. Kiri, kanan, depan, belakang, semuanya terhiasi hiasi obor di depan rumah.

   Malam ke-26 Ramadan. Malam kami menyambut lailatul qadar. Berjalan dengan lantunan kalimat takbir dan penuh kebahagiaan. Walau sebetulnya kami tau belum tentu pada malam ini adalah lailatul qadar. Namun, inilah kami dan budaya serta adat-istiadat.

  Seiring berjalannya waktu, dipengaruhi oleh modernisasi jaman, tradisi kami mulai redup. Kami bahkan lupa akan 26 malam ramadan kala itu. Hanya asik main gadged, atau sekedar jalan tak karuan.

  Berlangsung beberapa waktu dengan keredupan yang sama. Hanya terdengar riuk petasan dan kembang api saja.

    Risau kami akan keadaan membuat kami sekelompok pelajar yang tak terlau terpelajar mencoba membangkitkan aura kema'rufan itu.

   Alhasil, malam ini di tanggal 21 juni bertepatan dengan malam ke-26 ramadan, tradisi yang sempat redup akhirnya kembali menggema. Mencuat semangat generasi muda (anak kampong) yang berujung pada gema takbir dan pawai obor keliling kampung (lufu gam).

   Walau keberadaan ku saat ini berjarak dengan kampong. Tapi, aku tetap ada berasama anak-anak kampong dan bersorak gembira malam ini.
  
    Terima kasih untuk tidak melupakan tradisi orang tatua. Jadikan budaya dan adat-istiadat sebagai identias diri kita.

#anakkampong
#masabaca
#bukulasa

CATATAN DIAKHIR JUNI

   Semua orang punya mimpi. Punya pengharapan akan masa depan. Angan akan kebahagiaan dan ketentraman. Tapi, ada berbagai macam jalan yang harus dilewati. Entah jalan sunyi atau jalan ramai.

   Dari dua jalan tersebut dia memilih jalan yang sunyi. Jalan yang asing untuk sebagian orang. Jalan kesendirian dengan kertas dan pena sebagai teman.

    Menulis yang ia pilih. Dengan latar belakan sebagai mahasiswa sastra. Sering Ia berfikir, untuk apa kita berada dilingkungan sastra, tapi kita tidak punya karya sastra. Hanya bisa menilai, mengkritik, dan mengoceh karya orang lain.

   Gus Dur menggugat Tuhan. Gus Mus menggugat Indonesia. Tapi, kita malah menggugat mereka salah.

  Memang benar karya yang mereka buat dan dipublikasi, bukan lagi milik mereka. Tapi, milik kita sebagai pembaca, penilai, peninjau, bahkan pengkritik. Tapi, pernah kita pikirkan untuk apa tujuan kita melakukan itu? Hanya sekedar melakukan pembenaran.

   Kebenaran adalah sebuah cermin besar yang di jatuhkan oleh Tuhan ke bumi. Setiap dari kita mengambil sekeping kebenaran itu. Dan untuk apa kita saling beradu untuk melakukan pembenaran. Saling menentang bahkan bertikai mengatasnamakan Tuhan.
                         ****
    Ketika ada yang bertanya apa tujuanmu menulis?
    "Bagiku menulis bukanlah hanya sekedar menuangkan gagasan diatas kertas, bukan untuk kita tetap abadi dengan karya atau untuk diperjual-belikan. Aku menulis karena aku sadar aku masih bodoh" jawabnya.

    Orang akan bingung dengan jawaban seperti itu. Entah apa maksudnya. Mungkin kita butuh Wiliam Shaksaper untuk menafsirkan itu. Atau dengan pembenaran kita sendiri dan menganggap Dia benar-benar bodoh.

   Orang idealis memang sukar dengan jalan yang ramai. Tapi bagi mereka kesunyian adalah kebisingan yang luar biasa.
                        ****
     Mimpinya adalah kebahagiaan. Tapi bukan berarti hanya dirinya sendiri. Tapi untuk semesta alam.

    Kejenuhan terkadang membuatnya karam. Mimpinya mungkin terlalu tinggi. Tapi, tak ada salahnya juga. Tnggi mimpinya mungkin tingginya sejengkal dari tanah..

   Jenuh juga berada di jalan sunyi, yang dipikirkan mungkin masa depan. Seandainya masa depan bisa dilihat dan dinikmati sekarang. Dia tidak akan pernah berusaha. Karena itulah. Biarkan masa depan menjadi misteri sekaligus kejutan kala tiba waktunya.

   Dia pernah menyerah, kecewa bahkan kaku untuk beraktifitas. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang membangkitkan itu. Masih menjadi rahasia apa atau siapa. Manusiakah? Atau benda?
Tapi dia takan terjun ke lubang yang sama.

   "Hanya orang bodoh yang mau kembali pada kebodohannya, dan aku belum terlalu bodoh untuk kembali. Meninggalkan hal terbaiku saat ini. Kamu"
      Kurang lebih seperti itu.

     Mungkin yang membaca ini akan kebingungan. Alur, maksud, serta tujuan tulisannya. Karena saat menulis pun dia kebingungan.

    Sepertinya, dia sengaja mumbuatnya. Agar bisa dikritik pembaca. Tidak jenius, kreatif, atau imajinatif. Dia lebih pada apa adanya. Menyalurkan isi kepala dengan caranya sendiri. Dengan warna yang berbeda.
                       ****

     Bicara soal perbedaan. Dia juga mengalami perbedaan. Tapi, kalau mau dibahas nanti dibilang dia alay. Katanya perbedaan itu takan bisa disatukan. Perbedaan adalah perbedaan.

     Dia menjadikan perbedaan adalah awal dari penyatuaan. Kita sebagai manusia secara detil berda. Adakah manusia yang memiliki sidik jari yang mirip?

   "Perbedaan bukan perpisahan. Bukan akhir dari segalanya. Bukan sebagai bahan untuk memberi entitas. Segala hal yang berbeda jika disatukan, maka akan ada sesuatu hal yang baru. Biru dan kuning jika dipadukan menghasilkan hijau. Menghasilkan sebuah warna baru"

    Hargailah perbedaan sebagai persamaan. Mungkin itu maksudnya.
                     ****
   Mungkin samapi disini, Kita sudah lari jauh dari topik cerita. Begitulah orangnya. Dinamis tidak menjadikan tema sebagai fokus. Sering memadukan satu dengan lainnya. Bahkan hal yang banyak menganggap tidak masuk akal. Tapi, itukan akal mereka, bukan dia.

    Pelukis menggunakan cat dan kanvas untuk melukis seseorang. Dia hanya perlu merangkai kata untuk melukis. Kali ini dia melukis diri sendiri. Hal yang jarang dia lakukan sebelumnya. Sepertinya ada sesuatu. Sesuatu yang menyentuhnya untuk melukis diri sendiri. Hujan kah, senja atau apa. Sebenarnya hari ini..!!
Sebaiknya tidak dilanjutkan.

    Tokoh dibalik aktifitasnya sekarang ialah Jostein Gaarder. Tapi tulisan ini bukan  dipersembahkan untuk si penulis ulung tersebut tapi, ada seseorang. Orang tersebut pasti sudah banyak yang tau. Karena dia sudah berkali-kali melukisnya. Apa harus main tebak-tebakan. Cluenya adalah, wanita, E, dan D.

    Sekarang sudah sangat jauh, dan orang sudah mulai kebingungan dengan cerita ini. Sepertinya kita harus jeda dulu. Kita akan lanjutkan nanti, saat gema kebingungan pembaca hilang terlebih dahulu.
                      ****

   "Untuk hari ini. Hari dimana aku bertambah tua. Hari aku ini. tidak butuh kado, jam tangan, handpone baru, ataupun ucapan selamat. Yang ku butuhkan ialah kamu duduk di sampingku dan kita akan bercerita, sambil minum kopi atau capucino dingin mungkin. Tapi, jika kesemuanya dikasih. Aku akan lebih berterima kasih"

  "Terima kasih untuk semuanya. Untuk 27 November tahun lalu, hingga hari ini" (syamalila).

Jumat, 16 Juni 2017

IMAJI SUNYI CLARA

   Hembusan angin yang dingin mulai terasa perih hingga air yang riak tak mau bersahabat dengannya. Imaji Clara pecah saat duduk di tepi bukit samping rumah dan memandangi bintang-bintang. Walau bulan tak diizikan untuk keluar, tapi bintak sudah cukup untuk menerangi malam ini.
    Seandainya ada bintang jatuh malam ini. Clara akan berharap ada seseorang yang datang. Mungkin akan duduk disampingnya. Bangku panjang kosong yang dia lebihkan untuk seseorang.
   Imajinasi Clara bahkan menembus angkasa. Barangkali ada malaikat disana.
   "Kalau saja ada malaikat. Akan kupatahkan sayapnya. Agar dia tak lagi terbang dan tetap disini bersamaku"

    Hanya ditemani dengan jeritan jangkrik dan burung-burung malam. Tak membuat Clara bosan untuk tetap duduk.
     Hatinya mungkin terkurung oleh imaji sunyi malam ini. Tak bisa jadi nyata. Kalau saja jadi nyata takan mungkin berlangsung lama.
      "Begitu indah. Begitu sulit untukku biarkan"

     Mungkin saat ini Clara belajar untuk membiarkannya pergi. Hal nyata yang hanya akan jadi mimpi-mimpi nantinya.
     Dia butuh warna-warni untuk menghiasi disini. Menghiasinya yang terkurung imaji sunyi.
     "Biarkan anganku terbang dan menghilang bersama malam. Takan ada yang ku sesali. Andaikan waktu bisa berhenti. Akan ku ungkapkan"
     
    Sepertinya sudah larut dan Clara mestinya masuk ke rumah karena angin malam yang semakin menusuk relung tulang.
     Terkurung oleh imajinya seorang diri membuatnya hanya berhayal dengan imajinasi yang pecah dan liar. Mungkin dia butuh seseorang. Tapi, dia takut. Takut dengan kenyataan.

    Saat tidurpun dia melanjutkan dengan mimpi yang sama. Tidur dengan hanya ditemani lampu pijar kuning dan jam beker untuk menjaganya terlelap dan tidak terlambat dipagi hari saat akan menjemput fajar

    Clara sempat takut untuk berbaring. Takut dia akan terbang bersama malaikat dan tak lagi ada di bumi. Tapi, dia merasa yakin karena deringan telpon yang menandakan ada seseorang yang datang esok hari.
Yang akan mewarnai imajinya bersama jingga fajar esok. Redupan mata Clara seakan mengahiri semuanya hari ini. Terlelap dengan penuh ingin.

Sabtu, 03 Juni 2017

NOSTALGIA SENJA

    Jam 1 siang  adalah waktu terbaik untuk istirahat bagi sebagian orang. Kebanyakan menghabiskan menghabiskan waktu disaat mentari tepat di atas kepala untuk berlayar ke negeri mimpi. Tapi, Fahmi menjadikan waktu tengah hari untuk buku album dan pena sembari menulis syair-syair. dipenuhi dengan metafora kata di bawah pohon pinggir rumah.

     Remaja 19 tahun ini gemar sekali menulis syair. Mungkin karena terekspresi oleh W. S. atau C. A. Orang-orang memanggilnya si alay karena beberapa syair yang dia tempel di mading kampus telihat sangat romantis.

      Selain menuis syair ternyata Fahmi juga penikmat senja. Dia juga menempelkan beberapa foto kreasinya saat sanja mengadu.

       Teringat Fahmi kalau hari ini adalah hari spesial untuk dia dan Sabilla. Dan sepertinya dia harus siapkan sesuatu untuk kekasihnya itu.
    

     "Bill.. lagi di mana, bentar lihat senja yukk.. di pantai Tagalaya"
       Tanya Fahmi.
      "Aku lagi di kampus. Iya, boleh. Tapi, aku masih harus kuliah, kira-kira selsainya mungkin jam 5 atau 6"
  
      "Gak apa-apa. Aku tungguin deh.. bisakan"

       "Mmm. Gimananya.. aku usahain deh"

       Jawab Sabilla dengan ragu.

       "Yasudah.. ketemunya langsung di pantai ya, seperti biasa, tepat di bawah pohon ketapang"

       Tuutt tuutt tuutt. Sabilla mematikan telepon tanpa basasi. Jidat Fahmi terlihat mengerut. Padahal ini anniversarr6y mereka yang ke 1th.
        "Kok aneh. Biasanya dia nggak langsung matikan telepon saat masih bercakap. Apa dia lupa ya"
         Gumam Fahmi sembari bergegas menuju pantai.

          Jarum jam sudah menunjukan pukul 6 tepat. Fahmi sudah 2 jam menunggu Sabilla di pantai. Namun, Sabilla belum lagi datang. Fahmi terlihat sedikit kecewa karena beberapa beberapa menit lagi senja akan muncul dan Sabilla belum lagi duduk di sampingnya.

        Beberapa kali Fahmi menelpon Sabilla, tapi nomornya tidak bisa di hubungi. Mungkin hpnya kehabisan batrei atau dia sengaja mematikan hpnya biar nggak diganggu.

         Stengah jam berlalu sang senja mulai muncul dan Sabilla belum lagi tiba.
         "Kok dia tega nggak datang di saat seperti ini. Padahal ini senja terbaik dan tak ada secuil awan pun yang menutupi"
          Ceracau Fahmi sambil melempar batu ke pantai, pertanda kecewa.

        Sabilla belum juga datang dan lima menit lagi senja akan berlalu. Fahmi pun sudah memasukan album dan penanya kedalam tas dan bersiap untuk pulang. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat dari jauh seseorang berlari ke arahnya dan ternyata itu adalah Sabilla.

        " Fahhmii.. maaf aku terlambat. Aku nggak lupa anniversarry kita kok. Tadi Aku harus berlari dari kampus ke sini. Aku gak bisa naik ojek. Hp sama dompetku hilang di kantin. Padahal kuliah ku sudah selesai jam 5 tadi Dan... haahh.."
         Cerita Sabilla sambil menopang lutunya karena kelelahan saat berlari sekitar setengah kilo dari kampus menuju pantai.

         "Trus kameranya mana. Kok gak bawa kamera. Ini kan moment terbaik kita"
          Tanya Sabilla pada Fahmi dan terlihat sedikit kecewa.

        " siniii. Duduk dulu"
        Pinta Fahmi
      
        Sabilla pun duduk di sampinya dengan raut wajah kecewa.

        " tau nggak kenapa aku gak bawa kamera. Aku sengaja.
Terkadang ada moment yang terlalu indah untuk diabadikan dengan kamera, moment sepeti ini. Cukup kita abadikan dengan mata dan hati saja"
         Jelas Fahmi sambil menepuk pelan bahu Sabilla dan memberikan sebuah novel karangan seorang penulis terkenal eropa yang berjudul "Nostalgia Senja"

       Sabilla pun tersenyum.

        "Betul juga, disayangin juga kalau diabadikan dengan kamera tapi gak pake hati percuma saja nggak kerasa. Kalau fotonya hilang abis deh gak ada yang bisa di kenang"
           Sahut Sabilla.

         Mereka pun menikmati jingganya senja dengan penuh hikmah akan keagungan sang pencipta. Walau hanya berlalu beberapa detik. Tapi, itu sudah cukup untuk ditulis di buku album dan di tempel ke mading seperti biasanya.

SECANGKIR KOPI

  Writer by: Junfahriel

Ada orang yang bilang kalau hidup itu haruslah senang dan jangan dibuat susah. Ada juga yang bilang kita harus punya segalanya untuk bahagia. Tapi aku hanya butuh secangkir kopi untuk bahagia.
    Secangkir kopi untuk ku hari ini, besok, lusa, dan hari-hari yang akan datang. Hitam sepat, pahit dan sedikit saja rasa manisnya. Ya mungkin takarannya 2x1. 2 untuk kopi dan 1 untuk gula.
     Secangkir kopi menamani malam ini, dipadukan dengan rokok mungkin bisa lebih nikmat, ditambah dengan suasana sejuk ramadan. Sambil mendengar lantunan ayat suci yang keluar dari corong surau, seruput perlahan hingga menuju ampas. Mungkin butuh sekitar 3 jam untuk secangkir kopi.
     Ada yang bilang kalau kopi bisa merusak jantung, bisa mengganggu pencernaan. Bahkan ada yang bilang kopi itu ada sianida. Dikira kopinya jesika apa.
       Secangkir kopi untuk kebahagiaan. Tapi, ingat kalao udah imsak jangan minum lagi, nanti puasanya gak sah.
      Berekspresi dengan cara sendiri mungkin lebih baik. Dengan hal-hal sedikit gila tapi bukan orang gila juga. Yang penting kita tau apa yang kita lakukan.

Kamis, 25 Mei 2017

KADO UNTUK AYAH

 Writer by: Junfahriel



  Saat senja mulai mengadu pada siang bahwa beberapa jam lagi malam akan muncul sembari meminta izin pada awan agar tidak menghalanginya untuk menampakan diri pada Alila.
   Duduk di bibir pantai. memegang seberkas foto yang bergambar seorang lelaki tua sambil menatap senja jingga. Sedikit terliha wajah beberapa orang dibalik berkas foto yang dia genggam.
    Terus duduk sambil menatap senja yang sepertinya malam memberikan banyak waktu untuk dia menampakan dirinya.
    " senja, tolong katakan pada ayah, bahwa aku sendirian disini Dan kamu yang menemani ku. Katakan juga aku rindu padanya. Rindu akan segalanya. Saat kita duduk bersama di meja makan dan menikmati hidangan mama. Saat kita bercanda tawa di ruang keluarga sambil menonton film. Saat paginya ayah harus menghatarku ke sekolah kemudian siangnya dia menjemputku. Atau saat kita foto bersama di waktu hari raya. Sampaikan itu pada ayah. Senja"
   Gumam Alila dan sesekali mengusap air mata.

    "Senja, bilang pada ayah kalau bahu mama saja tidak cukup untuk tempat bersandar. Bila mama disebelah kiri aku bersandar, lalu pada siapa disebelah kanan. Senja, bisakah kau munculkan wajah ayah satu detik saja untukku. Aku rindu senja..."

    "Senja, aku iri dengan mereka. Mereka diantar ayahnya kesekolah saat pagi. Ayah mereka datang untuk mengambil raport mereka disekolah. Aku iri, saat pulang sekolah, mereka bisa mencium tangan ayah dengan penuh hikmah dan ayahnya membalas dengan mengusap kepala mereka. Aku iri saat ayah mereka mengingatkan mereka ketika berbuat salah."

    " senja, mama terlalu sibuk untuk diriku mengadu, terlalu sibuk pergi sana sini. Aku tau itu untuk kepentingan kita. Tapi aku butuh banyak waktu untuk bersama. Senja, bisa tunjukan wajah ayah sekarang. Mungkin besok, lusa, atau kapan."

   "Mungkinkah ayah disana juga melihatmu senja. Apa ayah disana juga merindukan ku, atau sebaliknya. Tapi, aku berharap ayah juga merindukan aku, mama, dan adik-kakak ku."

   "Senja aku tidak meminta banyak hal. Aku hanya ingin keluarga kecil ini menjadi keluarga yang utuh, senja. Aku ingin mengadu banyak hal pada ayah. Aku ingin ayah menginngatkanku saat aku berbuat salah"

    "Senja, aku berharap banyak padamu. Sampaikan ini pada ayah, walaupun hanya dengan bisikan. Bahwa aku, mama dan adik-kakak  rindu padanya"

#senja

   

Minggu, 21 Mei 2017

KANTONG AJAIB

Writer by : Junfahriel

  Dewasa ini, keadaan alam semakin memburuk. Ketidak pedulian manusia terhadap keseimbangan ekosistem, membuat tempat tinggal berjuta makhluk ini merajuk.
  Glester di antartika yang semakin mencair membuat permukaan air naik dan berpotensi daratan akan semakin sempit. Lapisan ozon yang semakin tipis berefek pada keterbatasan oksigen di bumi. Belum lagi efek rumah kaca dan pulusi membuat udara semakin tercemar.
   Hal itu membuat riko merasa bersalah karena dia adalah manusia yang tinggal di bumi dan sudah sepatutnya menjaga keseimbangan ekosistem ini.
   Ketika mendengar berita dari surat kabar lokal di daerahnya, emosi riko pun mencuat. Karena akan ada penggusuran lahan yang di rencananya akan di bangun parbrik pertambangan. Sungguh miris bila harus melerakan pohon" pinus di hutan yang harus di tebang habis. Belum lagi ditambah dengan adanya perburuan trhadap harimau sumatera yang masuk dalam kategori emergency (punah).
   Riko pun bergegas menuju rumah pohon yang tak jauh dari rumah dan segera menghubungi Andri, teman sekaribnya yang sama" mencinatai alam.
  Walaupun masih 15 tahun Riko sudah banyak terlibat dalam berbagai kegiatan perlindungan ekosistem. Dia juga suka mendaki gunung, hingga kini sudah sekitar 5-6 gunung yang sedah di dakinya bersama beberapa patnernya di LSM.
  "Hallo, Andri kamu di mana. Segara merapat ke pos. Ada berita baru"
   "Oke Riko. Otw"

Setelah menunggu beberapa saat, Andri tiba dan riko mulai menceritakan informasi yang dia dapatkan tadi.
  " aduh.. bagaiman nih Rik, klo gini trus nanti bagaimna dengan kelangsungan flora dan fauna di hutan. Dampaknya sudah pasti bahaya. Walaupun nggak sekarang, tapi nnti generasi yang akan datang"
Ujar Andri penuh resah.
   "Memang seperti itu manusia. Individualistis. Tidak pernah melakukan pertimbangan dulu soal alam. Padahal kita hidup dari alam. Semua yang kita gunakan adalah hasil alam. Kalau hasil alam habis, kita mau tinggal di mana. Apak kita pindah saja ke planet lain, seperti Mars"
  Papar Riko.
   "Seandainya saja aku punya kantong ajab kayak doraemon. Akan aku pulihkan semuanya seperti semula"

  Riko dan Andri pun berunding, seperti sedang merencanakan sesuatu. Raut wajah mereka sepertinya sangat serius membahas masalah ini. Mereka bergegas meninggalkan pos dan menuju ke salah satu LSM konserfasi alam yang tak jauh dari pos.
  Sesampainya di LSM Riko dan Andri langsung melaporkan berita itu kepada Pak Rudi, kordinator LSM tersebut. Ternyata Pak Rudi juga sudah tau dan beliau mengatakan bahwa masyarakat yang berada di tmpat itu juga tidak setuju dengan rencaba tersebut dan mereka sedang melakukan hering dengan Pemerintah daerah.
   "Tapi Pak. Kalau kita tidak melakukan sesuatu dan hanya menggandalkan masyarakat, pastinya sangat gampang untuk di tembus. Lagian para investor tinggal bayar saja lahanya. Kebanyakan masyarakatkan tidak peduli dengan alam, mereka hanya mementingkan isi perut untuk hari ini saja, tidak memikirkan untuk generasi berikutnya" ujar Riko.
   Mendengar berita ini, Pak Rudi langsung mengirim beberapa anggotanya untuk bertemu dengan pemerintah setempat. Yang dikahwatikan adalah, lahan tersebut merupakan sumber mata pencaharian bagi para petani di situ. Kalo pohon" pinus, karet, dan tumbuh-tumbuhan lainya di musnahkan, nanti bagaimna dengan keadaan kera jambul, badak bercula satu dan antilop di hutan itu. Pastinya akan memutuskan rantai makanan. Para petani pun tidak punya lahan lagi untuk bertani.
   "Kita sebagai manusia haruslah menjaga dan melestarikan flora dan fauna di bumi ini. Karena kita membutuhkan semua itu. Terkadang kita sering lupa mensyukuri itu. Menghabiskan waktu di depan Android sambil tertawa tercengir ataupun menangis karna kebawa perasaan membuat kita semakin lupa untuk mengagumi ciptaan sang Maha karya. Mau makan apa generasi kita nanti jika terus-terusan seperti ini. Apa harus butuh kantong ajaib doraemon lagi. Ataukah tongkat sakti Harry Potter. Kita harus belajar memahami dan memagnai dunia"
  gumam Riko sambil menitihkan dagu ke tangannya.

Jumat, 19 Mei 2017

BERSASTRA DENGAN ORANG GILA

WRITER BY : JUNFAHRIEL

"Sepulangku dari tempat kursus, melintasi keramaian sembari mengayun pelan sepeda ontel berwarna karat yang selalu menemani hari-hariku. Dalam perjalan aku merasa sedikit risih dengan bisingnya keramaian dan bau asap kenalpot serta pesingnya selokan-selokan jalan. "
    Ketika melewati sebuah toko, hati Adnan serasa diketuk dengan palu melihat seorang nenek yang di caci bahkan di siram dengan air bekas cucian. Segera mendekat dan menenangkan. Entah kenapa ketika Adnan ajak bicara nenek itu meneriakinya
"kamu gila ya. Orang gila, orang gila, orang gila"sembari menepuk perlahan belah tangan yng sedikit kusam.
"Sadarku ternyata si nenek itu adalah orang gila. Mendengar itu, aku bergegas untuk pergi" gumam Adnan dalam hati.
   Seminggu berselang Adnan berjalan mengelilingi kota tapi tidak dengan si karat cantiknya. Mengisi waktu libur sembari melihat fenomena-fenomena di perkotaan. Maklum Adnan orang baru di kota. Hanya anak desa yang besar dengan karya-karya sastra saja dan di panggil untuk bekerja salah satu media percetakan.
   Sesekali Adnan harus memeluk hidungnya karena bau pesing yang menguap dari selokan-selokan yang tersumbat. Melihat beberapa pedagang asongan yang menjajalkan beberapa bungkus rokok dan pembersih telinga yang tertumpuk di atas kotak biru yang menggantung di atas bahu.
     Tak di duga Adnan kembali bertemu si nenek gila itu, yang terlihat sedang duduk bersilah dan menyanyikan sebuah lagu yang tak tau jelas bahasanya dengan mengemnggam sebuah buku. Adnan bergegas menghampiri sambil menyumbat hidungnya yang tak tahan mencium bau pesing ke selokan.
   Dari jarak sekitar 5 meter si nenek menoleh ke arah Adnan. sontak menghentikan nyanyiannya dan tertawa dengan malu-malu.
   Ketika Adnan semakin mendekat
Si nenek menyembunyikan bukunya kedalam karung cokelatnya dan membuat Adnan semakin penasaran dengan buku tersebu. Maklumlah Adnan juga termasuk orang yang rakus dalam mengonsumsi buku.
    "Nek.. Boleh saya duduk di sini" tanya Adnan dengan rasa canggung.
     Nenek hanya menjawab dengan senyum dan menganggukan kepalanya.
   Ketika Adnan hendak mengajak ngobrol si nenek, beliau dengan dengan gegas bernyanyi. Tapi, kali ini tidak dengan memegang buku bersampul hitam yang di simpannya tadi.
    Dengan tenang Adnan mendengarkan nyanyian si nenek yang kedengaranya cukup bagus walaupun tak mengerti bahasa apa yang di nyanyikan.
    Setelah bernyanyi, nenek pun menatap Adnan dan kali ini tanpa senyum.
    "Bisa saya pinjam buku nenek yang tadi" tanya Adnan dengan raut wajah penuh rasa penasaran akan buku bersampul hitam itu.
    Nenek menjawab dengan menggelengkan kepala pertanda dia tidak mau memperlihatkan bukunya pada Adnan.
    Adnan pun mengalihkan pertanyaannya tadi dengan mengajak si nenek untuk ngobrol.
Lagi-lagi si nenek hanya merespon percakapan Adnan dengan gelengan  dan anggukan anggukan kepala.
    Tiba-tiba si nenek berdiri dan langsung berlari meninggalkan Adnan.
    Ternyata penyebab si nenek pergi karena melihat cuaca yang sudah mendung pertanda hujan akan turun. Entak karena takut basah karena hujan atau mungkin saja tidak suka dengan air.
    Saat Adnan hendak untuk pergi, tak sengaja dia melihat karung cokelat si nenek yang tergeletak di atas emperan toko. Saking paniknya si nenek sampai-sampai meninggalkan karungnya yang terlihat dari luar sedikit berisi.
   Adnan pun mengambil karung itu dan membawanya ke kontrakan.
    Dengan rasa penasaranya tadi Adnan perlahan membuka mulut karung cokelat itu.
   Adnan pun kaget ketika melihat isi karung itu. Ternyata di dalam karung si nenek terdapat beberapa buah buku dan portfolio serta pesil alis.
   Saat Adnan melihat isi buku hitam itu. Adnan langsung terheran dan takjub. Ternyata isi buku tersebut adalah kumpulan syair dan puisi dengan menggunakan bahasa melayu kuno yang saat ini sudah tidak lagi dipergunakan. Sedangkan portfolio itu berisikan tulisan-tulisan yang di tulis dengan pensil alis yang penuh magna, mungkin hanya orang-orang yang betul sastra yang bisa mengerti tulisan-tulisan ini.
    " tidak pernah diduga sebelumnya, seorang nenek yang dianggap gila ternyata punya kemampuan sastrawi yang luar biasa " bicara Adnan dalam hati dengan penuh kagum.
     "Terkadang kita sering menilai pribadi seseorang dengan hanya melihat tindakan dan sikapnya saja. Mungkin kita perlu lebih jelih untuk melihat seblum melakukan penilaian ataupun menilai diri sendiri terlebih dahulu. Teringat dengan pepatah, jangan lihat buku dari sampulnya" lanjut Adnan dengan raut wajah penuh senyum dan kagum.
(End)
  

Rabu, 03 Mei 2017

E=mc2 HELLEN

Writer by : JUNFAHRIEL S.

Fisikater. Begitulah orang sering menyapanya di kelas. Seorang mahasiswa ilmu fisika di oxford university yang kerap kali mengotak-atik rangkaian bahasa penuh angka dan kode yang membingungkan.
    Bangku meja paling depan di sudut pintu seringkali bengkok, karena terlalu dia duduki dan menindihkan penanya ke portfolionya yang lumayan tebal.
    Tak sadar Hellen sedang berada dalam P=F/A yang kerap kali membuatnya risih dan stres. Besarnya F yang dialami sesekali membuat A ruanganya bercakrawala semakin sempit.
    Tekanan yang silih berganti  dari E=mc2 dan E=mc2 lainya. Hellen selalu bertanya dimanakah eksistensi yang lainnya disaat seperti ini. Belum lagi soal kebutuhan morilnya yang kadang-kadang tidak berjalan mulus.
     Hellen sedang berusaha dengan W=F.s, membuat suatu gaya dan perpindahan pikiranya agar tidak lagi getir dengan tekanan batinya.
    Perceraian kedua orang tuanya juga sempat membuat semangat belajar Hellen menurun drastis dan membakar beberapa buku favoritenya.
     Si gadis manja nan cerdas dan cerdik ini memiliki pola pikir yang cukup rumit dan terkadang membuat beberapa orang yang ingin memahaminya sering kesulitan. Mungkin yang dia butuhkan adalah eksistensi seorang E=mc2 yang benar-benar sabar dalam mencerna dan menggenggam pikirannya.
    Joe. Teman sekarib Hellen yang kalam dan ramah juga masih seringkali terkacaukan dengan logika Hellen.
    " Joe? Kamu tau saya" tanya Hellen.
    "Apa maksud kamu Hellen. Aku tidak mengrti" jawab Joe dengan penuh kebingungan sembari menggaruk kepala yang tak gatal.
    "Itu saja yang ingin saya tanyakan. Terimakasih sudah mau menjawab" kalimat penutup Hellen lalu bergegas menuju mobil sedan merah yang terparkir dengan seorang supir.
     Begitulah yang sering dia tanyakan. Cukup abstrak memang. Sedikit proposisi dengan magna yang membingungkan.
     "Sudalah... mungkin dia sedang ada masalah" bisik Jo dalam hati.
      ternyata E=M.x^2 Hellen adalah ingin dimengerti dan keluar dari P=F/A. Namun anehnya dia tidak pernah untuk menceritakan itu dan hanya bercerita dengan cermin wajahnya.
    "Boleh saya bertanya lagi? Kenapa kamu menjawab pertanyaan saya" tanya Hellen via email yang ditujukan pada Jo.
     "Kamu itu aneh, apa maksudmu itu? Kenapa aku menjawab? Karena kamu bertanya" jawab Jo dengan dahinya yang sedikit mengerut, pertanda emosinya terpancing.
    Helen hanya membalas dengan emotion senyum bersama tanda tanya yang banyak.
     karena Q=W+^u Hellen yang kerap kali membuat ia terpaku dan selalu sanksi pada mc2L lainya.
Cukup rumit untuk memahaminya. Tapi Jo tetap berusaha deng W=F.s-nya dia, walau terkadang sering janggal dipikiran Hellen.
#To be countineu

Kamis, 27 April 2017

Alyxia Stellate

Maukah kau menapak ke hunianku sekedar memungut cerita bisu yang terkubur tanpa nisan tepat saat lafadz "pe-lepas-an" dihaturkan, kala itu?
Aku hanya lelaki berbau ayam kampung,  punya sepetak bidang lahan yg tak sberapa luas. Hanya beberapa bedengan kcil yg ditumbuhi sayur dan cabai.. Tanaman singkong dan tebu menjadi pagar pembatas  halaman, rumah berdinding anyaman tikar, beratap rumbia.
Maukah kau kuajak kesini, sayang?

Genggam tanganku erat2 kau kan kubawa berlari menerjang ilalang, hutan, laut, terjalnya bebatuan.
Ingatkah kau dengan saat itu?
Aku kan mengulang kata-kataku...

Kala mentari mulai merekah, maukah  kau temaniku menyeduh teh  bersama? sambil memandang kedua bola matamu yang mungil itu lebih lama, kita bercanda tentang khayalan kita dan merci, lamborgini, hotel berbintang, keramik, kolam renang, aquarium raksasa mas koki, kursi santai dekat perapian.
Saat matahari sejengkal naik, maukah kau temaniku ke hutan? mencari beberapa bakul sagu dan kelapa untuk kita makan nanti malam.
Tak perlu harus ke kebun binatang untuk sekedar melihat kunang-kunang, Di hutan kita kan dihiburi dengan bintik2 cahaya mentari yg tembus malu2 diantara dedaunan, bintik cahaya  berukuran kepalan tangan yang jatuh tepat  di atas tanah, diantara daun dan ranting kering ..
Mari sini sayang,, bantu aku memungut ranting-ranting kering ini untuk dijadikan kayu bakar pada tungku sederhana yang kubuat dari batu cadas dari  sungai itu...

Saat matahari membengkok ke barat, aku berbau asin.. Maukah kau temaniku ke laut?  Mengambil beberapa akar bakau untuk kita jadikan telunjuk pada pengajian malam nanti...

Aku memang tak punya apa-apa. Hanya kupiah dan sajadah. Kata mama itu lebih dari segalanya.. Maukah kau amini? Mari sini sayang, bantu aku menerbangkan doa2 ini ke langit setelah kita bermunajah dalam sujud di pelataran sajadah?

Saat berpapasan dengan tetangga, kau menegur, dibalas tegur oleh mereka dari balik kaca riben merci.. Kenapa harus malu sayang? Aku tahu, kalau aku hanya punya sebuah gerobak dan seekor sapi yg biasanya kita pakai jalan-jalan ke hutan mengambil beberapa bakul sagu, kelapa, rating kering, dan melihat kunang-kunang d atas tanah... Tapi aku tetap bersyukur karena setidaknya kita tak pernah kekurangan karena masih punya, sajadah, kupiah, qur'an, akar bakau, kemenyan,  Tuhan...
Kau tahu apa yang kurindui??
Aku rindu lekukan kerut jidatmu.. Heran.
Aku rindu lentikan daun matamu, sayup... dgn indahnya kedua bola mata mungil, indah.

Aku rindu bentuk sapa telunjukmu, tegas...
Aku rindu nada gersangmu yang  memecah malam, membasahi gelap kerontang. Apalagi saat doa2 yang kuterbangkan ke langit bersama sejuta harap kau amini dgn nada penyerahan total, ikhlas...

Saat malam kita kan bertemaran dgn pelita kecil yg kubuat dri botol bekas minuman ringan yg telah diberi sumbu dan minyak.. Tapi tenanglah kita masih punya ikhlas yg selalu menemani gelapnya kita, gelapnya hati krna tertutup "ingin", dusta, bebal.. Kau tahu, Kita kan melewati garang geramnya hidup.

Kasih...Aku yang kian kemari berdiam di tepi kata yang padamu tak dapat kukatakan..
Aku kian berpenghujung yang padamu tak lagi dapat kubahasakan...

Tapi Rindu ini semakin memilu
Saat asa dikuliti nestapa tepat diujung lintasan pertautan, disitu sahut bergayuh pelan , kemudian mnghilang, kemudian lenyap. Lalu kau pun beranjak tak sempat berbalik badan.

Kini, kata hanya bisa kuperas dalam genggaman imaji, atau utk  kelihaian mentinta atas luapan emosi dalam dada.

Aku masih dapat berbuat banyak.. Kalau hanya memvonis keuletan dan kesungguhan dalam merunut kehendak, berkali kali dapat kulakukan. Tapi apakah santunmu dapat menjembatani cerita kita diantara rumbia, bintang, fajar, langit sore, laut, hutan, munajat, singkong? Atau tentang khayalan kita tentang merci, lamborgini, keramik hotel berbintang, kolam renang, mas koki dalam aquarium raksasa, kursi santai dekat perapian?

Smoga jabatan tangan dan pelukan ini mengawetkan ke-kita-an, dalam mengasah cadasnya diri untuk mengekang pun memasung ego.

Sayang... Sebab diam tak berarti selalu meng-iya
Sebab aku tak sedang ingin blusukan
Sebab aku tak sedang ingin bepergian
Sebab aku sedang bermukim dihunian menikmati sedu sedan dan kemenduaan dalam diam..
Sebab terlampau sering dalam keceriaan memberi salam dengan senyum dan kepura-puraan.

Sebab aku masih sangat rindu disini, kalaupun harus menepi di tengah sepi yang ramai berpenghuni. Aku kan selalu memperhatikan, sambil menampik kecerobohanku agar tak menilik hati dan perasaanmu. Bahkan jika itu sukar sungguh, aku kan tetap meringkuh penuh seluruh.

Tapi....
Aku muak!! Telapakkan amarah, dan hentikan egomu di pelataran asmara, kasih..
Semoga sja kau masih sangat hafal dengan nyanyian sembilu yang pernah sama-sama kita debarkan dulu...
Bahwa
Jika salah, perbaiki!
Jika gagal, coba lagi!
Namu jika menyerah, Selesai!

Kasih... Jika tak sempat kau rindui, ambillah sepucuk kertas putih diatas sajadahku yang kutindih dengan kupiah hitam pemberianmu...
Kalau kau masih tak sempat membacanya....

Simpan saja ini baik-baik sayang..

Rabu, 26 April 2017

KADO UNTUK 12.960.000 DETIK

Writer by: Junfahriel Syam

12.960.000 detik untuk hari ini
Di mulai dari detik pertama dan 86.400 lanjutnya saya terlihat ragu-ragu untuk bersama, ketika masih ada persemian lain dalam diri. Terlihat sangat kontras karena mungkin perbedaan ideologi atau saling bertolak belakang antara pengertian dan dimengerti.
   172.800 detik mulai timbul satu kepercayaan untuk memulai dan memutuskan antara dua pilihan. Satu hal yang begitu aneh ketika dia terlihat ragu-ragu walau sampai detik 5.184.000 entah keterkungkungan masa lalu atau apa. Sempat dia memutuskan untuk berhenti pada detik 1.209.600. Serasa seperti di hempaskan angin dari puncak everst ke dasar jurang. Tapi di detik  2.419.200 dia kembali sembari menitikan sebuah pengharapan.
    "Aku putuskan untuk bersama dan melupakan semuanya. Semua yang membuatku ragu akan dirimu". kata dia. Diam sejenak sembari menitipkan kepla di telapak tangan. "Apa ini benar?" Tanya ku dalam hati. Akhirnya di detik 2.419.200 aku terima sebagai satu kepastian dalam diri.
   Kesabaran dan kesetian seakan menjadi pagar hidup untuk membendung beberapa putusanya di detik 5.616.000, 7.776.000, dan 10.368.000. Kebanyakan mereka melakukan putusan ketika dalam keadaan terbenggu amarah. Tpi aku tetap tenang sembari menyeruput secangkir kopi yang dipadukan dengan hembusan asap sepoi-sepoi dari dalam mulut. Dan sedikit memberi kuliah perasaan padanya.
  Berjalan penuh suka dan duka. Sesedikit aku membagi masalah atas jalan hidup padanya, begitupun sebaliknya. Terlihat sedikit malu-malu saat berkata dan jarang mengungkapkan. Mungkin karena pada dasarnya begitu. Aku mengerti.
   Tak sadar dan juga di belenggu emosi pada detik 12.096.000 aku serukan untuk berhenti. Tapi sejenak ku berpikir, mungkin inilah balasannya. Saking tensinya  di detik yang sama aku mulai melakukan hal yang tidak wajar, hal penuh ria berkelinan buruk. "Bodohnya ku memelihara kesabaran" bisikan dari dalam diri. Ketaksadaran membuat ku sadar akan apa yang sudah di lakukan.
    Dua hari setelahnya, coba untuk kembali menarik benang merah atas semunya, coba terima keadaan untuk bersama. Hingga detik ini kuputuskan untuk yang terakhir kalinya, ku berbuat hal kemarin. Putuskan untuk bersama dalam ruang yang berbeda. Bagaimana denganmu?.
Aku bukan siapa-siapa
Kau juga bukan siapa-siap
Dan kita di satukan dalam ruang dan waktu.
Kita tidak menanam apa-apa dan tidak juga mendapatkan apa-apa.
Catatan 12.906.000 detik ku.

Masih tak tau

Writer by: Junfahriel syam

   Saat itu aku bepergian ke suatu tempat yang di situ tak ada seorang pun menghela napas. Sengaja pergi jauh untuk mencari secuil rasa penasaranku akan sesuatu hal. Aku Riswan, kadang orang memanggilku si penjilat halaman buku. Mungkin karena hobiku membaca dan terkadang berdebat dengan isi buku atau apa, sehingga orang memanggilku seperti itu.
     Aku kembali teringat kata Dr. Fahriz saat memandu kuliah di kelas. Beliau bilang bahwa, "ketika orang makan kau masih memasak, ketika kau makan orang- orang sudah bepergian, tapi kau tidak terlambat. Aku sempat tertengung hingga tangan menjadi kaki untuk pipi dan dagu sembari sesekali melihat samaran dinding.
     "Apa maksudnya?" Tanya ku dalam hati. Hati kecilku seakan menjawab dengan penuh keheningan. "Carilah di alam ketaksadaranmu". Aku semakin bingung. "Aaaaghhh.. maunya apa? Setiap kali mengajar selalu saja melontarkan kalimat abstrak yang kerap kali membuat ku gila".
     kembali keperjalan, lewati hamparan gersang bebatuan yang menopang kaktus untuk berdiri. Sesekali mulutku harus meneguk tetesan air yang kuselipkan di botol bekas minuman ringan ke dalam ransel.
     Banyak hal aneh yang ku temui. Ada serangkai mawar yang mekar di tengah padang tandus. Berdiri tegak sebuah pohon pisang semakin membuat ku terheran. Berlarian 2 ekor kelinci yang terlihat bahagia membuat kepala ternduk pada waja Dr. Fahriz. "Apa ini hanyalah utopiaku belaka?, atau memang benar adanya". Jeritan dalam diri.
    Semakin jauh kaki ini terasa seperti tertanam ke hamparan tanah tandus. "Di mana aku? Sedang apa aku berada disini? Kenapa aku kesini? Apa yang aku cari?" Bertanya dalam bayang semu.
    Saat matahari mulai bergeser jauh ke barat, jelingan mata tak sengaja merekam seseorang. Berpakaian serba putih dan menggenggam sebuah tongkat sembari berdiri menbelakangi ku. Ku cuba dekati, tapi malah semakin jauh. Ku teriaki malah suara ku semakin samar dihempas angin.
    Sontak di berbalik menjeling dan melambaikan tangan, pertanda panggilan pada ku. Ketika ku dekati dan berpapasan dengannya. Tiba-tiba saja dia memukul dengan keras tepat di punggungku sembari meneriakiku. "Banguuunn, banguun kau".
"Aaaaggkkhhhhhhh". Teriakku karena rasa sakit dan deringan bunyi bising entah dari mana sembari menutup mata.
   Tiba-tiba aku terkejut saat membuka mata dan melihat jam beker bisisng di atas meja yang menunjukan pukul 08.00 pertanda aku harus pergi ke kampus dan Tak sadar, aku sudah berada di lantai, bukan lagi di atas ranjang.
   Masih ada yang tak tau mimpiku ini. Mimpi di atas mimpi yang mengimpikan suatu impian dalam ruang mimipi-mimpiku. Masih saja tak tau.
   

Selasa, 25 April 2017

Sastra cyberg

Air Seni
Oleh: Darwan Humah
Orang-orang berkumis dan bertopi baret ala seniman mulai memadati jalan-jalan kota. Mereka bermunculan dengan cara masing-masing. Ada dengan memperkenalkan lukisan yang hanya menggunakan satu warna, ada pula dengan membumbui lukisan mereka dengan aneka warna. Bahkan cara mereka melukis atau sekedar memvariasi warna pun berbeda. Ada dengan melempar cat pada permukaan kanvas, dengan menggunakan kuas dengan ukuran besar-kecil tergantung pada apa yang hendak dibuat (imajinasi) pelukis, bahkan sampai dengan menggunakan lidah sebagai pengganti kuas. Cara-cara melukis itu semata-mata bertujuan menciptakan penawaran harga yang lebih tinggi atau untuk menciptakan permintaan pasar produksi yang lebih. Orang-orang berkerumun menyaksikan pertunjukan tersebut yang mirip dengan akrobatik para badut yang ada di pasar malam.
Sewaktu berjalan melewati emperan toko, Riski bersama kedua orang temannya dikagetkan dengan kerumunan tersebut. Mereka bertiga hendak mencari buku yang membahas persoalan seni dan tema-tema seputaran kemanusiaan sebagai referensi atas tugas makalah yang disuguhkan dosen mereka , profesor Goufrim Guru Besar Antropolinguistik Fakultas Sastra.
Kelopak Riski tertuju pada seorang seniman yang berlapak tepat di persimpangan jalan, berdekatan dengan toko buku tempat tujuan mereka. Sempat mencuri berjuta pasang mata, akrobat seniman jalanan itu mendapat tepuk tangan yang banyak lantaran ia melukis dengan menggunakan lidah. Umumnya tema-tema yang mereka pasung dalam lukisan-lukisan tersebut bercerita tentang kemanusiaan. “warna lukisan itu sangat indah”, salut Isto yang berada di samping kanan Riski. “campuran warna yang pas”, lanjut Isra yang berada disamping kiri Riski sambil mengacungkan jempol kanan ke arah lukisan itu.
“Bukankah tulisan yang merupakan pemadatan kata adalah pereduksian dari hal yang sifatnya referensial (gambar itu sendiri)”?, “bukankah lukisan atau melukis membawa peranserta pikiran dan perasaan pembuatnya”? tanya Riski kepada Isra. “Tentu saja mereka paham dengan apa yang mereka lakukan”, sahut Isra. “Lalu apa yang lebih kau perhatikan ketika menyaksikan lukisan ini”? tanya Riski sambil menunjuk ke arah lukisan tersebut. “Tentu saja warna yang beragam yang membuat kedua mataku nyaman”.
Lorong-lorong sempit tempat berdomisili tikus dan kecoak ditambah bangunan kumuh yang terbuat dari kardus bekas, berdesakan, berhimpit dengan bangunan bertingkat  seakan melototi mereka bertiga yang kala itu sedang lewat. “begitu megah bangunan ini”, Salut Isra. “aku pasti bisa menempati bangunan itu kelak”, lanjut Isto. “bangunan ini seakan mendakwah bengis, ia seperti berbicara kepadaku bahwa penghuninya sedang bersantai dengan jus apel di sampingnya”, terka Riski di dalam hati. Sepanjang lorong itu, terpampang  lukisan dan tulisan yang menggelitik jidat dan perasaan Riski, tiga dari sekian banyak tulisan yang membuat langkahnya terhenti, diantaranya “MERDEKA 100 %”, “MALU PUNYA RASA MALU”, “PENGHUNI SURGA”, membuat kepala Riski sejenak tertunduk seakan ia memberikan penghormatan yang besar pada karangan tanpa pengarang yang terpampang disepanjang tembok lorong itu.
Begitupun para pembeli yang berdesakan ditengah kerumunan itu. Mereka tidak memperdulikan apakah lukisan itu mengilustrasikan hal-hal yang membuat mereka nyaman, atau sekedar menyenangkan kedua bola mata mereka dengan aneka warna yang mengitari besarnya kanvas. Mereka hanya memperdulikan SIAPA yang membuat lukisan itu. Jika seniman itu memiliki prestise, terkonsekrasi dengan baik, dan memiliki ketersohoran yang cukup besar di mata publik membuat para pembeli berburu lukisan-lukisan tersebut. Dan ini menjadi sebuah ajang mengerikan lantaran kesempatan seperti itu membuat para seniman berburu nama, dan tentunya berburu uang.

Riski kuliah di Fakultas Sastra pada program studi Ilmu Sejarah. Isto pada program studi Antropologi sosial, ia merupakan yunior dan beda satu tingkat dengan Isra. Para profesor, dan sebagian dosen yang dianggap memiliki kemampuan setingkat profesor oleh sebagian mahasiswa, atau tenaga pengajar kurang profesional yang menganggap diri mereka sebagai “profesor” sering kali mengeluh dalam konvensi  “ketersinggungan” yang mereka lakukan tiga bulan sekali. Rapat yang bertujuan memaksimalisasi proses belajar dengan mengacu kepada kurikulum belajar yang bersumber pada kontemplasi tolol mendikbud dalam kamarnya yang berukuran 10x10 meter.
“Aku punya sesuatu yang bisa kau jadikan instrumen untuk menyatakan perasaanmu”, jawab Zoo sambil merogoh saku kanan ranselnya. “bukankah itu air mineral”? Tanya Riski dengan nada tegas. “Beberapa menit kedepan air ini bukan lagi air mineral, tapi ia akan berubah menjadi AIR SENI”, jawab Zoo. “Bagaimana mungkin”? tanya Riski dengan nada heran. “Air ini akan kau pakai untuk menggambarkan sesuatu di tanah kering itu”. “Sekarang gambarlah sesuatu yang mewakili perasaanmu kepadanya agar ia dapat mengerti apa yang kau rasakan”. Dengan gegas Riski menulis nama profesor. Namun air yang ia gunakan telah habis sebelum ia selesai menulis nama profesor. Dengan sigap ia membuka resleting celananya dan lanjut mengukir nama profesor dengan air seninya.
aku yang kala itu sedang memperhatikan Riski hanya tersenyum  bangga melihat  atraksi seni temanku..

Ekspose sofifi

Senin, 24 April 2017

Cerpen penggugah

Menghapus Tapak Kaki
Oleh : junfahriel

Bunyi bising alaram telephone kian mendera membuat ku harus terbangun sembari bergegas mengalirkan air suci untuk sebentar bersujut memisahkan  ruh dan jasad seraya memanjatkan puji-pujian dan doa serta keluhan ku kepada sang penguasa cinta yang sedang menatap ku di fajar mulai bermunculan di saat yang bersamaan seruan burung-burung penjemput fajar pun berseru bersanding dengan jeloteh ayam di samping rumah.
Ku berdoa kepada Penguasa Cinta untuk segera melepas ketergantungan ku pada seorang penjelamaan Hawa yang pernah singgah diruang tak berpintu ini.
“Aku yakin kau mendengarnya, mendengar jeritan jeritan hati yang terhimpit kekecewaan mendalam yang kurasakan saat ini”
Tanpa sadar mataku berkaca-kaca, coba ku kedipkan tapi malah menetes, ku hapus tetapi terus saja mengalir. Coba dibayangkan seberapa besarnya hati yang terhimpit kekecewaan menangis. Tapi ku usahakan agar itu hanya menjadi kenanganku dimasa depan, pernah ku mengambil sebuah botol lalu ku isi dengan semua kekesalan dan rasa kecewa ku dan ku buang kelautan, tapi terus saja terlintas di benakku. Apakah penjelmaan Hawa yang dulunya adalah milikku juga masih merindukan ku atau sedang ber suka ria dengan selir barunya.
Hingga kekuatan hatiku berkata “apakah hanya dia satu-satunya wanita di muka bumi? hingga kamu terus mengingat masa lalu mu bersamanya‘ sesungguhnya hanya sang maha cinta yang memiliki cinta yang utuh dan kamu hanya mencuil sedikit cinta darinya, maka jangan pernah di sesali karena masih banyak cinta yang tersisa padanya”
Irfan namaku, seorang lelaki yang sudah separuh umur Nabi Muhammad hidup namun belum pernah menemukan kesejatian cinta hingga saat ini,dan kesekian kalinya hanya mendapatkan kegagalan dalam sebuah hubungan percintaan, hingga terakhir aku dikecewakan oleh seorang wanita keturunan turki bernama “Nadia” yang tak tau dengan sengaja atau pun tidak meninggalkan ku tanpa ada sedikit kata pun hanya karena lelaki mapan, kaya raya, yang ku pastikan rasa cinta lelaki itu tidak lebih besar dariku. Bisa di bayangkan 2 tahun ku bersamanya dan dan betapa besar rasa yang sudah kutami ini. Bahkan sudah ku rencanakan ke jenjang yang lebih serius. Tapi pada akhirnya itu hanya khayalan semu yang pernah ku angankan selama ini.
Berprofesi sebagai penulis di salah satu perusahan percetakan surat kabar di Yokjakarta terkadang membuatku gelisah lantaran hanya berpenghasilan standard dan harus Membiayai adik ku yang sedang duduk di bangku perkuliahan serta Ibu ku yang sedang menderita kanker stadium 3. Tapi keramahan orang-orang disekelilingku membuat beban ku sedikit ringan. Niatanku untuk menjadi dokter terpaksa ku kuburkan sebelumnya, karena keterbatasa biaya yang memungkinkanku hanya sampai pada tamatan SMA , dan niatan itu ku tanamkan pada salah satu adik ku Jihan yang ku tekankan untuk berkuliah di salah satu sekolah tinggi kedokteran.
Beberapa minggu berselang kemudian aku mendapatkan pesan dari menejer perusahaan untuk menghadiri kegiatan seminar di Singapura. Seminggu kemudian Aku dan beberapa rekan Ku berangkat ke Singapura untuk menghadiri acara seminar. Didalam perjalanan semua rekan ku merasa gembira karena ini merupakan kali pertama mereka bepergian ke singapura begitu juga denganku, namun terkadang kegembiraan ini selalu terselimuti oleh rasa kekecewaan yang mendalam yang masih tertata rapi dalam pikiran ku. Wajah suram membuat “Riko” salah satu rekan yang akrab dengan ku merasa penasaran dengan waja suram ku.
Dia bertanya selagi menatap dengan wajah terheran.
“ Fan, wajahmu suram sekali, apa kamu tidak gembira? Ini kan pertama kali kita ke luar negeri?”
“aku sangat gembira kok, hanya sedikit takut akan ketinggian karena ini pertamanya kali aku naik pesawat terbang”. jawab ku sembari menutup luka di hati yang kian melebar.
Beberapa jam kemudian kami pun tiba di Singapura,
Pernah hatiku berkata “jika aku bertemu lagi dengan para penjelmaan Hawa yang pernah menitipkan luka pada ku, maka aku akan memberikan senyuman terbaik ku pada mereka dan berusaha menutup rasa amarah ku”
keesokan harinya Aku dan rombongan menuju tempat seminar di salah satu hotel megah yang ada di ibu kota singapura. Bah istana rupanya, hingga kaki ku terasa berat untuk mengijak lantainya.
Setelah beberapa hari mengikuti seminar rekan-rekanku menajak untuk jalan-jalan mengellingi kota sembari berbelanja oleh-oleh untuk keluarga. Sesampai di sebuah pusat perbelanjaan tak ku sangka Aku bertemu dengan wanita yang selama ini membuatku termenung dalam kegelisahan yang saat itu sedang menikmati bulan madunya bersama lelaki yang kala itu memikatnya dari ku.
Sontak Nadia pun terkaget saat melihatku.
“ii’iffan? Sedang apa kamu di sini?” Menyapa dengan  retorika penuh kegugupan.
“aku dan beberapa rekan kerja sedang mengikuti kegiatan seminar di sini”. jawabku dengan wajah di hiasi senyuman walau hati ku terombak kekesalan yang berantakan. Namun berusaha untuk tetap tenang dan menahan api kekecewaan. Sembari membalas tanyanya.
“Bagaimana kabar mu?”
“a’aku baik-baik saja, tapi maaf a’a’aku harus p’p’ergi” jawabnya dengan penuh kegugupan dan ketakutan atas apa yang telah dia lakukan sebelumnya pada ku. Lalu pergi bersama lelaki yang kini menjadi suaminya.
Tapi dari hati ku yang paling dalam aku selalu teringat kenangan dulu bersamanya walau pernah disakiti namun cinta ini terlalu kuat kepadanya sehingga amarah ku padanya seakan tak berguna karena aku pikiran ku selalu terkonstruk akan dirinya.
Sepulangku ke Yokjakarta, aku menjalankan pekerjaanku seperti biasanya, namun bertambah parahnya penyakit ibu membuat ku sesekali bolak-balik rumah sakit setiap hari untuk menyisihkan waktu menengoknya walaupun ada kakak perempuan ku yang menjaganya. Di tambah lagi dengan adik ku jihan yang juga sedang membutuhkan banyak uang untuk studi akhirnya.
Sesekali aku mengeluh pada sang Maha Pencipta, entah seberapa besar kesalahan ku hingga bertubi-bertubi cobaan kau limpahkan pada diri yang lemah ini. Jika cobaan ini hanya untuk membuat aku dewasa dalam berfikir dan bertindak, maka niscaya ku terima cobaan ini sebagai sebuah rahmat dari Tuhan.
Satu bulan kemudian kantor ku di buat ramai dengan kedatangan seorang karyawan baru dari Jakarta. Seorang penulis ulung berparas cantik, biru matanya membuat para pujangga di kantorku kian terpesona dengannya, begitu juga dengan ku. Luka ku terasa hilang sesaat ketika pertama berpapasaan dengannya. Yang kala itu tidak sengaja aku bertabrakan tubuh dengannya.
“maaf, aku tidak sengaja” .
maafku padanya karena bertabrakan, namun penuh kegugupan dan dan serasa dadaku membengkak karena detakan jantung yang begitu cepat. Ada apa sebenarnya dengan wanita ini. Sontak dia langsung pergi dengan wajah suram, entah dengan amarah ataukah mungkin dia hanya menyembunyikan rasa malu.
“huuhh, bermuka dua, sudah bisa kubaca psikisnya”. Kata ku sambil menarik nafas panjang dan ku hembuskan melalui mulut. Terkadang perempuan memang begitu pura-pura dengan amarah namun hatinya berbunga-bunga. Aku katakan begitu karena sedah ku amati selama bertahun-tahun setiap perempuan yang dekat dengan ku. Tapi sialnya Aku belum bisa menjalani hubungan yang serius bersama mereka.
Tapi suasanaku terasa sangat berbeda jauh sebelumnya ketika wanita ini hadir. Rasa kecewa yang sebelumnya membara sedikit terkikis dengan paras wajah dan biru matanya. Fatimah namanya. Ku rasa cocok nama itu untuknya. pemalu, lemah lembut, santun dalam berbicara, walau terkadang wajahnya sesekali cemberut. Karena pernah aku membaca sebuah buku karangan Dr. Ali Syariti Ku rasa itu mungkin gambaran dari Fatimah Az-Zahra puteri Rasulullah.
“hah, dasar khayal”. Bisik ku dari dalam hati.
Lama-kelamaan hati ku serasa terpikat padanya. Apakah ini utusan sang maha cinta untuk menghapus tapak kaki ku yang kian bersarang itu. Namun, aku bimbang karena jika ku amati, ada seorang atasan ku yang juga tertarik padanya. Sungguh luar biasa  dengan  balutan jilbab panjangnya teryata meninggalkan kesan menawan pada setiap pujangga yang melihatnya. Kemudian coba ku utaraan perasaan suka namun bimbang ini pada Riko rekan yang selalu  setia mendengar ceritaku
“aku sepertinya sedang jatuh cinta dengan seseorang”.
kata ku padanya dengan perasaan sedikit ragu entah bagaimana tanggapanya.
“sudah ku tau itu, dari gerak gerik mu saja sudah mencerminkan itu” jawabnya dengan penuh ketahuan dia terhadap apa yang aku pikirkan.
Kusampaikan kebimbangan ini padanya, bahwa tidak mudah untuk memiliki Fatimah karena ada atasan ku yang sedang berdiri di depan pintu hati Fatimah.
Sontak dia menjawab “ pernahkah kau membaca kisah seekor laron? Yang kala itu sedang berputar-putar mengelilingi sebuah lentera, sesekali ia terus mendekat sampai coba menyentuhkan badanya pada lentera itu. Namun jatuh terhampar ke lantai, ia pun kembali bangkit walau separuh sayapnya hangus terbakar. Terus mendekat dan kembali menabrak lntera itu, akhirnya jatuh juga hingga sayapnya terbakar habis. Tapi sungguh luar biasa ketika ia kembali mendekati lentera walau hanya menggunakan ke enam kakinya untuk memanjat lentra itu”.
Bisa kita jadiakan kisah di atas sebagai cerminan bahwa sesunggunya itulah yang disebut dengan jatuh cinta. Sebuah perjuangan tanpa henti walau terkadang terdapat kerikil duri yang di tapaki.
Aku pun serasa lahir kembali dengan semangat yang baru. Dan kala itu ku terus berusaha mendekati dan melupakan semua masa laluku yang suram itu. walau terkadang aku harus bertabrakan emosional dengan orang-orang yang sama tujuannya dengan ku. Satu hal yang ku dapatkan dari semua ini adalah aku belajar untuk mendewasakan diri dari segala sesuatu yang mengganjalkan Aku, belajar untuk mengasah perjuangan dan menyeleksi diri hingga sampai pada taraf tertinggi yaitu CINTA.