Writer by: Junfahriel syam
Saat itu aku bepergian ke suatu tempat yang di situ tak ada seorang pun menghela napas. Sengaja pergi jauh untuk mencari secuil rasa penasaranku akan sesuatu hal. Aku Riswan, kadang orang memanggilku si penjilat halaman buku. Mungkin karena hobiku membaca dan terkadang berdebat dengan isi buku atau apa, sehingga orang memanggilku seperti itu.
Aku kembali teringat kata Dr. Fahriz saat memandu kuliah di kelas. Beliau bilang bahwa, "ketika orang makan kau masih memasak, ketika kau makan orang- orang sudah bepergian, tapi kau tidak terlambat. Aku sempat tertengung hingga tangan menjadi kaki untuk pipi dan dagu sembari sesekali melihat samaran dinding.
"Apa maksudnya?" Tanya ku dalam hati. Hati kecilku seakan menjawab dengan penuh keheningan. "Carilah di alam ketaksadaranmu". Aku semakin bingung. "Aaaaghhh.. maunya apa? Setiap kali mengajar selalu saja melontarkan kalimat abstrak yang kerap kali membuat ku gila".
kembali keperjalan, lewati hamparan gersang bebatuan yang menopang kaktus untuk berdiri. Sesekali mulutku harus meneguk tetesan air yang kuselipkan di botol bekas minuman ringan ke dalam ransel.
Banyak hal aneh yang ku temui. Ada serangkai mawar yang mekar di tengah padang tandus. Berdiri tegak sebuah pohon pisang semakin membuat ku terheran. Berlarian 2 ekor kelinci yang terlihat bahagia membuat kepala ternduk pada waja Dr. Fahriz. "Apa ini hanyalah utopiaku belaka?, atau memang benar adanya". Jeritan dalam diri.
Semakin jauh kaki ini terasa seperti tertanam ke hamparan tanah tandus. "Di mana aku? Sedang apa aku berada disini? Kenapa aku kesini? Apa yang aku cari?" Bertanya dalam bayang semu.
Saat matahari mulai bergeser jauh ke barat, jelingan mata tak sengaja merekam seseorang. Berpakaian serba putih dan menggenggam sebuah tongkat sembari berdiri menbelakangi ku. Ku cuba dekati, tapi malah semakin jauh. Ku teriaki malah suara ku semakin samar dihempas angin.
Sontak di berbalik menjeling dan melambaikan tangan, pertanda panggilan pada ku. Ketika ku dekati dan berpapasan dengannya. Tiba-tiba saja dia memukul dengan keras tepat di punggungku sembari meneriakiku. "Banguuunn, banguun kau".
"Aaaaggkkhhhhhhh". Teriakku karena rasa sakit dan deringan bunyi bising entah dari mana sembari menutup mata.
Tiba-tiba aku terkejut saat membuka mata dan melihat jam beker bisisng di atas meja yang menunjukan pukul 08.00 pertanda aku harus pergi ke kampus dan Tak sadar, aku sudah berada di lantai, bukan lagi di atas ranjang.
Masih ada yang tak tau mimpiku ini. Mimpi di atas mimpi yang mengimpikan suatu impian dalam ruang mimipi-mimpiku. Masih saja tak tau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar