Menghapus Tapak Kaki
Oleh : junfahriel
Bunyi bising alaram telephone kian mendera membuat ku harus terbangun sembari bergegas mengalirkan air suci untuk sebentar bersujut memisahkan ruh dan jasad seraya memanjatkan puji-pujian dan doa serta keluhan ku kepada sang penguasa cinta yang sedang menatap ku di fajar mulai bermunculan di saat yang bersamaan seruan burung-burung penjemput fajar pun berseru bersanding dengan jeloteh ayam di samping rumah.
Ku berdoa kepada Penguasa Cinta untuk segera melepas ketergantungan ku pada seorang penjelamaan Hawa yang pernah singgah diruang tak berpintu ini.
“Aku yakin kau mendengarnya, mendengar jeritan jeritan hati yang terhimpit kekecewaan mendalam yang kurasakan saat ini”
Tanpa sadar mataku berkaca-kaca, coba ku kedipkan tapi malah menetes, ku hapus tetapi terus saja mengalir. Coba dibayangkan seberapa besarnya hati yang terhimpit kekecewaan menangis. Tapi ku usahakan agar itu hanya menjadi kenanganku dimasa depan, pernah ku mengambil sebuah botol lalu ku isi dengan semua kekesalan dan rasa kecewa ku dan ku buang kelautan, tapi terus saja terlintas di benakku. Apakah penjelmaan Hawa yang dulunya adalah milikku juga masih merindukan ku atau sedang ber suka ria dengan selir barunya.
Hingga kekuatan hatiku berkata “apakah hanya dia satu-satunya wanita di muka bumi? hingga kamu terus mengingat masa lalu mu bersamanya‘ sesungguhnya hanya sang maha cinta yang memiliki cinta yang utuh dan kamu hanya mencuil sedikit cinta darinya, maka jangan pernah di sesali karena masih banyak cinta yang tersisa padanya”
Irfan namaku, seorang lelaki yang sudah separuh umur Nabi Muhammad hidup namun belum pernah menemukan kesejatian cinta hingga saat ini,dan kesekian kalinya hanya mendapatkan kegagalan dalam sebuah hubungan percintaan, hingga terakhir aku dikecewakan oleh seorang wanita keturunan turki bernama “Nadia” yang tak tau dengan sengaja atau pun tidak meninggalkan ku tanpa ada sedikit kata pun hanya karena lelaki mapan, kaya raya, yang ku pastikan rasa cinta lelaki itu tidak lebih besar dariku. Bisa di bayangkan 2 tahun ku bersamanya dan dan betapa besar rasa yang sudah kutami ini. Bahkan sudah ku rencanakan ke jenjang yang lebih serius. Tapi pada akhirnya itu hanya khayalan semu yang pernah ku angankan selama ini.
Berprofesi sebagai penulis di salah satu perusahan percetakan surat kabar di Yokjakarta terkadang membuatku gelisah lantaran hanya berpenghasilan standard dan harus Membiayai adik ku yang sedang duduk di bangku perkuliahan serta Ibu ku yang sedang menderita kanker stadium 3. Tapi keramahan orang-orang disekelilingku membuat beban ku sedikit ringan. Niatanku untuk menjadi dokter terpaksa ku kuburkan sebelumnya, karena keterbatasa biaya yang memungkinkanku hanya sampai pada tamatan SMA , dan niatan itu ku tanamkan pada salah satu adik ku Jihan yang ku tekankan untuk berkuliah di salah satu sekolah tinggi kedokteran.
Beberapa minggu berselang kemudian aku mendapatkan pesan dari menejer perusahaan untuk menghadiri kegiatan seminar di Singapura. Seminggu kemudian Aku dan beberapa rekan Ku berangkat ke Singapura untuk menghadiri acara seminar. Didalam perjalanan semua rekan ku merasa gembira karena ini merupakan kali pertama mereka bepergian ke singapura begitu juga denganku, namun terkadang kegembiraan ini selalu terselimuti oleh rasa kekecewaan yang mendalam yang masih tertata rapi dalam pikiran ku. Wajah suram membuat “Riko” salah satu rekan yang akrab dengan ku merasa penasaran dengan waja suram ku.
Dia bertanya selagi menatap dengan wajah terheran.
“ Fan, wajahmu suram sekali, apa kamu tidak gembira? Ini kan pertama kali kita ke luar negeri?”
“aku sangat gembira kok, hanya sedikit takut akan ketinggian karena ini pertamanya kali aku naik pesawat terbang”. jawab ku sembari menutup luka di hati yang kian melebar.
Beberapa jam kemudian kami pun tiba di Singapura,
Pernah hatiku berkata “jika aku bertemu lagi dengan para penjelmaan Hawa yang pernah menitipkan luka pada ku, maka aku akan memberikan senyuman terbaik ku pada mereka dan berusaha menutup rasa amarah ku”
keesokan harinya Aku dan rombongan menuju tempat seminar di salah satu hotel megah yang ada di ibu kota singapura. Bah istana rupanya, hingga kaki ku terasa berat untuk mengijak lantainya.
Setelah beberapa hari mengikuti seminar rekan-rekanku menajak untuk jalan-jalan mengellingi kota sembari berbelanja oleh-oleh untuk keluarga. Sesampai di sebuah pusat perbelanjaan tak ku sangka Aku bertemu dengan wanita yang selama ini membuatku termenung dalam kegelisahan yang saat itu sedang menikmati bulan madunya bersama lelaki yang kala itu memikatnya dari ku.
Sontak Nadia pun terkaget saat melihatku.
“ii’iffan? Sedang apa kamu di sini?” Menyapa dengan retorika penuh kegugupan.
“aku dan beberapa rekan kerja sedang mengikuti kegiatan seminar di sini”. jawabku dengan wajah di hiasi senyuman walau hati ku terombak kekesalan yang berantakan. Namun berusaha untuk tetap tenang dan menahan api kekecewaan. Sembari membalas tanyanya.
“Bagaimana kabar mu?”
“a’aku baik-baik saja, tapi maaf a’a’aku harus p’p’ergi” jawabnya dengan penuh kegugupan dan ketakutan atas apa yang telah dia lakukan sebelumnya pada ku. Lalu pergi bersama lelaki yang kini menjadi suaminya.
Tapi dari hati ku yang paling dalam aku selalu teringat kenangan dulu bersamanya walau pernah disakiti namun cinta ini terlalu kuat kepadanya sehingga amarah ku padanya seakan tak berguna karena aku pikiran ku selalu terkonstruk akan dirinya.
Sepulangku ke Yokjakarta, aku menjalankan pekerjaanku seperti biasanya, namun bertambah parahnya penyakit ibu membuat ku sesekali bolak-balik rumah sakit setiap hari untuk menyisihkan waktu menengoknya walaupun ada kakak perempuan ku yang menjaganya. Di tambah lagi dengan adik ku jihan yang juga sedang membutuhkan banyak uang untuk studi akhirnya.
Sesekali aku mengeluh pada sang Maha Pencipta, entah seberapa besar kesalahan ku hingga bertubi-bertubi cobaan kau limpahkan pada diri yang lemah ini. Jika cobaan ini hanya untuk membuat aku dewasa dalam berfikir dan bertindak, maka niscaya ku terima cobaan ini sebagai sebuah rahmat dari Tuhan.
Satu bulan kemudian kantor ku di buat ramai dengan kedatangan seorang karyawan baru dari Jakarta. Seorang penulis ulung berparas cantik, biru matanya membuat para pujangga di kantorku kian terpesona dengannya, begitu juga dengan ku. Luka ku terasa hilang sesaat ketika pertama berpapasaan dengannya. Yang kala itu tidak sengaja aku bertabrakan tubuh dengannya.
“maaf, aku tidak sengaja” .
maafku padanya karena bertabrakan, namun penuh kegugupan dan dan serasa dadaku membengkak karena detakan jantung yang begitu cepat. Ada apa sebenarnya dengan wanita ini. Sontak dia langsung pergi dengan wajah suram, entah dengan amarah ataukah mungkin dia hanya menyembunyikan rasa malu.
“huuhh, bermuka dua, sudah bisa kubaca psikisnya”. Kata ku sambil menarik nafas panjang dan ku hembuskan melalui mulut. Terkadang perempuan memang begitu pura-pura dengan amarah namun hatinya berbunga-bunga. Aku katakan begitu karena sedah ku amati selama bertahun-tahun setiap perempuan yang dekat dengan ku. Tapi sialnya Aku belum bisa menjalani hubungan yang serius bersama mereka.
Tapi suasanaku terasa sangat berbeda jauh sebelumnya ketika wanita ini hadir. Rasa kecewa yang sebelumnya membara sedikit terkikis dengan paras wajah dan biru matanya. Fatimah namanya. Ku rasa cocok nama itu untuknya. pemalu, lemah lembut, santun dalam berbicara, walau terkadang wajahnya sesekali cemberut. Karena pernah aku membaca sebuah buku karangan Dr. Ali Syariti Ku rasa itu mungkin gambaran dari Fatimah Az-Zahra puteri Rasulullah.
“hah, dasar khayal”. Bisik ku dari dalam hati.
Lama-kelamaan hati ku serasa terpikat padanya. Apakah ini utusan sang maha cinta untuk menghapus tapak kaki ku yang kian bersarang itu. Namun, aku bimbang karena jika ku amati, ada seorang atasan ku yang juga tertarik padanya. Sungguh luar biasa dengan balutan jilbab panjangnya teryata meninggalkan kesan menawan pada setiap pujangga yang melihatnya. Kemudian coba ku utaraan perasaan suka namun bimbang ini pada Riko rekan yang selalu setia mendengar ceritaku
“aku sepertinya sedang jatuh cinta dengan seseorang”.
kata ku padanya dengan perasaan sedikit ragu entah bagaimana tanggapanya.
“sudah ku tau itu, dari gerak gerik mu saja sudah mencerminkan itu” jawabnya dengan penuh ketahuan dia terhadap apa yang aku pikirkan.
Kusampaikan kebimbangan ini padanya, bahwa tidak mudah untuk memiliki Fatimah karena ada atasan ku yang sedang berdiri di depan pintu hati Fatimah.
Sontak dia menjawab “ pernahkah kau membaca kisah seekor laron? Yang kala itu sedang berputar-putar mengelilingi sebuah lentera, sesekali ia terus mendekat sampai coba menyentuhkan badanya pada lentera itu. Namun jatuh terhampar ke lantai, ia pun kembali bangkit walau separuh sayapnya hangus terbakar. Terus mendekat dan kembali menabrak lntera itu, akhirnya jatuh juga hingga sayapnya terbakar habis. Tapi sungguh luar biasa ketika ia kembali mendekati lentera walau hanya menggunakan ke enam kakinya untuk memanjat lentra itu”.
Bisa kita jadiakan kisah di atas sebagai cerminan bahwa sesunggunya itulah yang disebut dengan jatuh cinta. Sebuah perjuangan tanpa henti walau terkadang terdapat kerikil duri yang di tapaki.
Aku pun serasa lahir kembali dengan semangat yang baru. Dan kala itu ku terus berusaha mendekati dan melupakan semua masa laluku yang suram itu. walau terkadang aku harus bertabrakan emosional dengan orang-orang yang sama tujuannya dengan ku. Satu hal yang ku dapatkan dari semua ini adalah aku belajar untuk mendewasakan diri dari segala sesuatu yang mengganjalkan Aku, belajar untuk mengasah perjuangan dan menyeleksi diri hingga sampai pada taraf tertinggi yaitu CINTA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar