Kamis, 27 April 2017

Alyxia Stellate

Maukah kau menapak ke hunianku sekedar memungut cerita bisu yang terkubur tanpa nisan tepat saat lafadz "pe-lepas-an" dihaturkan, kala itu?
Aku hanya lelaki berbau ayam kampung,  punya sepetak bidang lahan yg tak sberapa luas. Hanya beberapa bedengan kcil yg ditumbuhi sayur dan cabai.. Tanaman singkong dan tebu menjadi pagar pembatas  halaman, rumah berdinding anyaman tikar, beratap rumbia.
Maukah kau kuajak kesini, sayang?

Genggam tanganku erat2 kau kan kubawa berlari menerjang ilalang, hutan, laut, terjalnya bebatuan.
Ingatkah kau dengan saat itu?
Aku kan mengulang kata-kataku...

Kala mentari mulai merekah, maukah  kau temaniku menyeduh teh  bersama? sambil memandang kedua bola matamu yang mungil itu lebih lama, kita bercanda tentang khayalan kita dan merci, lamborgini, hotel berbintang, keramik, kolam renang, aquarium raksasa mas koki, kursi santai dekat perapian.
Saat matahari sejengkal naik, maukah kau temaniku ke hutan? mencari beberapa bakul sagu dan kelapa untuk kita makan nanti malam.
Tak perlu harus ke kebun binatang untuk sekedar melihat kunang-kunang, Di hutan kita kan dihiburi dengan bintik2 cahaya mentari yg tembus malu2 diantara dedaunan, bintik cahaya  berukuran kepalan tangan yang jatuh tepat  di atas tanah, diantara daun dan ranting kering ..
Mari sini sayang,, bantu aku memungut ranting-ranting kering ini untuk dijadikan kayu bakar pada tungku sederhana yang kubuat dari batu cadas dari  sungai itu...

Saat matahari membengkok ke barat, aku berbau asin.. Maukah kau temaniku ke laut?  Mengambil beberapa akar bakau untuk kita jadikan telunjuk pada pengajian malam nanti...

Aku memang tak punya apa-apa. Hanya kupiah dan sajadah. Kata mama itu lebih dari segalanya.. Maukah kau amini? Mari sini sayang, bantu aku menerbangkan doa2 ini ke langit setelah kita bermunajah dalam sujud di pelataran sajadah?

Saat berpapasan dengan tetangga, kau menegur, dibalas tegur oleh mereka dari balik kaca riben merci.. Kenapa harus malu sayang? Aku tahu, kalau aku hanya punya sebuah gerobak dan seekor sapi yg biasanya kita pakai jalan-jalan ke hutan mengambil beberapa bakul sagu, kelapa, rating kering, dan melihat kunang-kunang d atas tanah... Tapi aku tetap bersyukur karena setidaknya kita tak pernah kekurangan karena masih punya, sajadah, kupiah, qur'an, akar bakau, kemenyan,  Tuhan...
Kau tahu apa yang kurindui??
Aku rindu lekukan kerut jidatmu.. Heran.
Aku rindu lentikan daun matamu, sayup... dgn indahnya kedua bola mata mungil, indah.

Aku rindu bentuk sapa telunjukmu, tegas...
Aku rindu nada gersangmu yang  memecah malam, membasahi gelap kerontang. Apalagi saat doa2 yang kuterbangkan ke langit bersama sejuta harap kau amini dgn nada penyerahan total, ikhlas...

Saat malam kita kan bertemaran dgn pelita kecil yg kubuat dri botol bekas minuman ringan yg telah diberi sumbu dan minyak.. Tapi tenanglah kita masih punya ikhlas yg selalu menemani gelapnya kita, gelapnya hati krna tertutup "ingin", dusta, bebal.. Kau tahu, Kita kan melewati garang geramnya hidup.

Kasih...Aku yang kian kemari berdiam di tepi kata yang padamu tak dapat kukatakan..
Aku kian berpenghujung yang padamu tak lagi dapat kubahasakan...

Tapi Rindu ini semakin memilu
Saat asa dikuliti nestapa tepat diujung lintasan pertautan, disitu sahut bergayuh pelan , kemudian mnghilang, kemudian lenyap. Lalu kau pun beranjak tak sempat berbalik badan.

Kini, kata hanya bisa kuperas dalam genggaman imaji, atau utk  kelihaian mentinta atas luapan emosi dalam dada.

Aku masih dapat berbuat banyak.. Kalau hanya memvonis keuletan dan kesungguhan dalam merunut kehendak, berkali kali dapat kulakukan. Tapi apakah santunmu dapat menjembatani cerita kita diantara rumbia, bintang, fajar, langit sore, laut, hutan, munajat, singkong? Atau tentang khayalan kita tentang merci, lamborgini, keramik hotel berbintang, kolam renang, mas koki dalam aquarium raksasa, kursi santai dekat perapian?

Smoga jabatan tangan dan pelukan ini mengawetkan ke-kita-an, dalam mengasah cadasnya diri untuk mengekang pun memasung ego.

Sayang... Sebab diam tak berarti selalu meng-iya
Sebab aku tak sedang ingin blusukan
Sebab aku tak sedang ingin bepergian
Sebab aku sedang bermukim dihunian menikmati sedu sedan dan kemenduaan dalam diam..
Sebab terlampau sering dalam keceriaan memberi salam dengan senyum dan kepura-puraan.

Sebab aku masih sangat rindu disini, kalaupun harus menepi di tengah sepi yang ramai berpenghuni. Aku kan selalu memperhatikan, sambil menampik kecerobohanku agar tak menilik hati dan perasaanmu. Bahkan jika itu sukar sungguh, aku kan tetap meringkuh penuh seluruh.

Tapi....
Aku muak!! Telapakkan amarah, dan hentikan egomu di pelataran asmara, kasih..
Semoga sja kau masih sangat hafal dengan nyanyian sembilu yang pernah sama-sama kita debarkan dulu...
Bahwa
Jika salah, perbaiki!
Jika gagal, coba lagi!
Namu jika menyerah, Selesai!

Kasih... Jika tak sempat kau rindui, ambillah sepucuk kertas putih diatas sajadahku yang kutindih dengan kupiah hitam pemberianmu...
Kalau kau masih tak sempat membacanya....

Simpan saja ini baik-baik sayang..

Rabu, 26 April 2017

KADO UNTUK 12.960.000 DETIK

Writer by: Junfahriel Syam

12.960.000 detik untuk hari ini
Di mulai dari detik pertama dan 86.400 lanjutnya saya terlihat ragu-ragu untuk bersama, ketika masih ada persemian lain dalam diri. Terlihat sangat kontras karena mungkin perbedaan ideologi atau saling bertolak belakang antara pengertian dan dimengerti.
   172.800 detik mulai timbul satu kepercayaan untuk memulai dan memutuskan antara dua pilihan. Satu hal yang begitu aneh ketika dia terlihat ragu-ragu walau sampai detik 5.184.000 entah keterkungkungan masa lalu atau apa. Sempat dia memutuskan untuk berhenti pada detik 1.209.600. Serasa seperti di hempaskan angin dari puncak everst ke dasar jurang. Tapi di detik  2.419.200 dia kembali sembari menitikan sebuah pengharapan.
    "Aku putuskan untuk bersama dan melupakan semuanya. Semua yang membuatku ragu akan dirimu". kata dia. Diam sejenak sembari menitipkan kepla di telapak tangan. "Apa ini benar?" Tanya ku dalam hati. Akhirnya di detik 2.419.200 aku terima sebagai satu kepastian dalam diri.
   Kesabaran dan kesetian seakan menjadi pagar hidup untuk membendung beberapa putusanya di detik 5.616.000, 7.776.000, dan 10.368.000. Kebanyakan mereka melakukan putusan ketika dalam keadaan terbenggu amarah. Tpi aku tetap tenang sembari menyeruput secangkir kopi yang dipadukan dengan hembusan asap sepoi-sepoi dari dalam mulut. Dan sedikit memberi kuliah perasaan padanya.
  Berjalan penuh suka dan duka. Sesedikit aku membagi masalah atas jalan hidup padanya, begitupun sebaliknya. Terlihat sedikit malu-malu saat berkata dan jarang mengungkapkan. Mungkin karena pada dasarnya begitu. Aku mengerti.
   Tak sadar dan juga di belenggu emosi pada detik 12.096.000 aku serukan untuk berhenti. Tapi sejenak ku berpikir, mungkin inilah balasannya. Saking tensinya  di detik yang sama aku mulai melakukan hal yang tidak wajar, hal penuh ria berkelinan buruk. "Bodohnya ku memelihara kesabaran" bisikan dari dalam diri. Ketaksadaran membuat ku sadar akan apa yang sudah di lakukan.
    Dua hari setelahnya, coba untuk kembali menarik benang merah atas semunya, coba terima keadaan untuk bersama. Hingga detik ini kuputuskan untuk yang terakhir kalinya, ku berbuat hal kemarin. Putuskan untuk bersama dalam ruang yang berbeda. Bagaimana denganmu?.
Aku bukan siapa-siapa
Kau juga bukan siapa-siap
Dan kita di satukan dalam ruang dan waktu.
Kita tidak menanam apa-apa dan tidak juga mendapatkan apa-apa.
Catatan 12.906.000 detik ku.

Masih tak tau

Writer by: Junfahriel syam

   Saat itu aku bepergian ke suatu tempat yang di situ tak ada seorang pun menghela napas. Sengaja pergi jauh untuk mencari secuil rasa penasaranku akan sesuatu hal. Aku Riswan, kadang orang memanggilku si penjilat halaman buku. Mungkin karena hobiku membaca dan terkadang berdebat dengan isi buku atau apa, sehingga orang memanggilku seperti itu.
     Aku kembali teringat kata Dr. Fahriz saat memandu kuliah di kelas. Beliau bilang bahwa, "ketika orang makan kau masih memasak, ketika kau makan orang- orang sudah bepergian, tapi kau tidak terlambat. Aku sempat tertengung hingga tangan menjadi kaki untuk pipi dan dagu sembari sesekali melihat samaran dinding.
     "Apa maksudnya?" Tanya ku dalam hati. Hati kecilku seakan menjawab dengan penuh keheningan. "Carilah di alam ketaksadaranmu". Aku semakin bingung. "Aaaaghhh.. maunya apa? Setiap kali mengajar selalu saja melontarkan kalimat abstrak yang kerap kali membuat ku gila".
     kembali keperjalan, lewati hamparan gersang bebatuan yang menopang kaktus untuk berdiri. Sesekali mulutku harus meneguk tetesan air yang kuselipkan di botol bekas minuman ringan ke dalam ransel.
     Banyak hal aneh yang ku temui. Ada serangkai mawar yang mekar di tengah padang tandus. Berdiri tegak sebuah pohon pisang semakin membuat ku terheran. Berlarian 2 ekor kelinci yang terlihat bahagia membuat kepala ternduk pada waja Dr. Fahriz. "Apa ini hanyalah utopiaku belaka?, atau memang benar adanya". Jeritan dalam diri.
    Semakin jauh kaki ini terasa seperti tertanam ke hamparan tanah tandus. "Di mana aku? Sedang apa aku berada disini? Kenapa aku kesini? Apa yang aku cari?" Bertanya dalam bayang semu.
    Saat matahari mulai bergeser jauh ke barat, jelingan mata tak sengaja merekam seseorang. Berpakaian serba putih dan menggenggam sebuah tongkat sembari berdiri menbelakangi ku. Ku cuba dekati, tapi malah semakin jauh. Ku teriaki malah suara ku semakin samar dihempas angin.
    Sontak di berbalik menjeling dan melambaikan tangan, pertanda panggilan pada ku. Ketika ku dekati dan berpapasan dengannya. Tiba-tiba saja dia memukul dengan keras tepat di punggungku sembari meneriakiku. "Banguuunn, banguun kau".
"Aaaaggkkhhhhhhh". Teriakku karena rasa sakit dan deringan bunyi bising entah dari mana sembari menutup mata.
   Tiba-tiba aku terkejut saat membuka mata dan melihat jam beker bisisng di atas meja yang menunjukan pukul 08.00 pertanda aku harus pergi ke kampus dan Tak sadar, aku sudah berada di lantai, bukan lagi di atas ranjang.
   Masih ada yang tak tau mimpiku ini. Mimpi di atas mimpi yang mengimpikan suatu impian dalam ruang mimipi-mimpiku. Masih saja tak tau.
   

Selasa, 25 April 2017

Sastra cyberg

Air Seni
Oleh: Darwan Humah
Orang-orang berkumis dan bertopi baret ala seniman mulai memadati jalan-jalan kota. Mereka bermunculan dengan cara masing-masing. Ada dengan memperkenalkan lukisan yang hanya menggunakan satu warna, ada pula dengan membumbui lukisan mereka dengan aneka warna. Bahkan cara mereka melukis atau sekedar memvariasi warna pun berbeda. Ada dengan melempar cat pada permukaan kanvas, dengan menggunakan kuas dengan ukuran besar-kecil tergantung pada apa yang hendak dibuat (imajinasi) pelukis, bahkan sampai dengan menggunakan lidah sebagai pengganti kuas. Cara-cara melukis itu semata-mata bertujuan menciptakan penawaran harga yang lebih tinggi atau untuk menciptakan permintaan pasar produksi yang lebih. Orang-orang berkerumun menyaksikan pertunjukan tersebut yang mirip dengan akrobatik para badut yang ada di pasar malam.
Sewaktu berjalan melewati emperan toko, Riski bersama kedua orang temannya dikagetkan dengan kerumunan tersebut. Mereka bertiga hendak mencari buku yang membahas persoalan seni dan tema-tema seputaran kemanusiaan sebagai referensi atas tugas makalah yang disuguhkan dosen mereka , profesor Goufrim Guru Besar Antropolinguistik Fakultas Sastra.
Kelopak Riski tertuju pada seorang seniman yang berlapak tepat di persimpangan jalan, berdekatan dengan toko buku tempat tujuan mereka. Sempat mencuri berjuta pasang mata, akrobat seniman jalanan itu mendapat tepuk tangan yang banyak lantaran ia melukis dengan menggunakan lidah. Umumnya tema-tema yang mereka pasung dalam lukisan-lukisan tersebut bercerita tentang kemanusiaan. “warna lukisan itu sangat indah”, salut Isto yang berada di samping kanan Riski. “campuran warna yang pas”, lanjut Isra yang berada disamping kiri Riski sambil mengacungkan jempol kanan ke arah lukisan itu.
“Bukankah tulisan yang merupakan pemadatan kata adalah pereduksian dari hal yang sifatnya referensial (gambar itu sendiri)”?, “bukankah lukisan atau melukis membawa peranserta pikiran dan perasaan pembuatnya”? tanya Riski kepada Isra. “Tentu saja mereka paham dengan apa yang mereka lakukan”, sahut Isra. “Lalu apa yang lebih kau perhatikan ketika menyaksikan lukisan ini”? tanya Riski sambil menunjuk ke arah lukisan tersebut. “Tentu saja warna yang beragam yang membuat kedua mataku nyaman”.
Lorong-lorong sempit tempat berdomisili tikus dan kecoak ditambah bangunan kumuh yang terbuat dari kardus bekas, berdesakan, berhimpit dengan bangunan bertingkat  seakan melototi mereka bertiga yang kala itu sedang lewat. “begitu megah bangunan ini”, Salut Isra. “aku pasti bisa menempati bangunan itu kelak”, lanjut Isto. “bangunan ini seakan mendakwah bengis, ia seperti berbicara kepadaku bahwa penghuninya sedang bersantai dengan jus apel di sampingnya”, terka Riski di dalam hati. Sepanjang lorong itu, terpampang  lukisan dan tulisan yang menggelitik jidat dan perasaan Riski, tiga dari sekian banyak tulisan yang membuat langkahnya terhenti, diantaranya “MERDEKA 100 %”, “MALU PUNYA RASA MALU”, “PENGHUNI SURGA”, membuat kepala Riski sejenak tertunduk seakan ia memberikan penghormatan yang besar pada karangan tanpa pengarang yang terpampang disepanjang tembok lorong itu.
Begitupun para pembeli yang berdesakan ditengah kerumunan itu. Mereka tidak memperdulikan apakah lukisan itu mengilustrasikan hal-hal yang membuat mereka nyaman, atau sekedar menyenangkan kedua bola mata mereka dengan aneka warna yang mengitari besarnya kanvas. Mereka hanya memperdulikan SIAPA yang membuat lukisan itu. Jika seniman itu memiliki prestise, terkonsekrasi dengan baik, dan memiliki ketersohoran yang cukup besar di mata publik membuat para pembeli berburu lukisan-lukisan tersebut. Dan ini menjadi sebuah ajang mengerikan lantaran kesempatan seperti itu membuat para seniman berburu nama, dan tentunya berburu uang.

Riski kuliah di Fakultas Sastra pada program studi Ilmu Sejarah. Isto pada program studi Antropologi sosial, ia merupakan yunior dan beda satu tingkat dengan Isra. Para profesor, dan sebagian dosen yang dianggap memiliki kemampuan setingkat profesor oleh sebagian mahasiswa, atau tenaga pengajar kurang profesional yang menganggap diri mereka sebagai “profesor” sering kali mengeluh dalam konvensi  “ketersinggungan” yang mereka lakukan tiga bulan sekali. Rapat yang bertujuan memaksimalisasi proses belajar dengan mengacu kepada kurikulum belajar yang bersumber pada kontemplasi tolol mendikbud dalam kamarnya yang berukuran 10x10 meter.
“Aku punya sesuatu yang bisa kau jadikan instrumen untuk menyatakan perasaanmu”, jawab Zoo sambil merogoh saku kanan ranselnya. “bukankah itu air mineral”? Tanya Riski dengan nada tegas. “Beberapa menit kedepan air ini bukan lagi air mineral, tapi ia akan berubah menjadi AIR SENI”, jawab Zoo. “Bagaimana mungkin”? tanya Riski dengan nada heran. “Air ini akan kau pakai untuk menggambarkan sesuatu di tanah kering itu”. “Sekarang gambarlah sesuatu yang mewakili perasaanmu kepadanya agar ia dapat mengerti apa yang kau rasakan”. Dengan gegas Riski menulis nama profesor. Namun air yang ia gunakan telah habis sebelum ia selesai menulis nama profesor. Dengan sigap ia membuka resleting celananya dan lanjut mengukir nama profesor dengan air seninya.
aku yang kala itu sedang memperhatikan Riski hanya tersenyum  bangga melihat  atraksi seni temanku..

Ekspose sofifi

Senin, 24 April 2017

Cerpen penggugah

Menghapus Tapak Kaki
Oleh : junfahriel

Bunyi bising alaram telephone kian mendera membuat ku harus terbangun sembari bergegas mengalirkan air suci untuk sebentar bersujut memisahkan  ruh dan jasad seraya memanjatkan puji-pujian dan doa serta keluhan ku kepada sang penguasa cinta yang sedang menatap ku di fajar mulai bermunculan di saat yang bersamaan seruan burung-burung penjemput fajar pun berseru bersanding dengan jeloteh ayam di samping rumah.
Ku berdoa kepada Penguasa Cinta untuk segera melepas ketergantungan ku pada seorang penjelamaan Hawa yang pernah singgah diruang tak berpintu ini.
“Aku yakin kau mendengarnya, mendengar jeritan jeritan hati yang terhimpit kekecewaan mendalam yang kurasakan saat ini”
Tanpa sadar mataku berkaca-kaca, coba ku kedipkan tapi malah menetes, ku hapus tetapi terus saja mengalir. Coba dibayangkan seberapa besarnya hati yang terhimpit kekecewaan menangis. Tapi ku usahakan agar itu hanya menjadi kenanganku dimasa depan, pernah ku mengambil sebuah botol lalu ku isi dengan semua kekesalan dan rasa kecewa ku dan ku buang kelautan, tapi terus saja terlintas di benakku. Apakah penjelmaan Hawa yang dulunya adalah milikku juga masih merindukan ku atau sedang ber suka ria dengan selir barunya.
Hingga kekuatan hatiku berkata “apakah hanya dia satu-satunya wanita di muka bumi? hingga kamu terus mengingat masa lalu mu bersamanya‘ sesungguhnya hanya sang maha cinta yang memiliki cinta yang utuh dan kamu hanya mencuil sedikit cinta darinya, maka jangan pernah di sesali karena masih banyak cinta yang tersisa padanya”
Irfan namaku, seorang lelaki yang sudah separuh umur Nabi Muhammad hidup namun belum pernah menemukan kesejatian cinta hingga saat ini,dan kesekian kalinya hanya mendapatkan kegagalan dalam sebuah hubungan percintaan, hingga terakhir aku dikecewakan oleh seorang wanita keturunan turki bernama “Nadia” yang tak tau dengan sengaja atau pun tidak meninggalkan ku tanpa ada sedikit kata pun hanya karena lelaki mapan, kaya raya, yang ku pastikan rasa cinta lelaki itu tidak lebih besar dariku. Bisa di bayangkan 2 tahun ku bersamanya dan dan betapa besar rasa yang sudah kutami ini. Bahkan sudah ku rencanakan ke jenjang yang lebih serius. Tapi pada akhirnya itu hanya khayalan semu yang pernah ku angankan selama ini.
Berprofesi sebagai penulis di salah satu perusahan percetakan surat kabar di Yokjakarta terkadang membuatku gelisah lantaran hanya berpenghasilan standard dan harus Membiayai adik ku yang sedang duduk di bangku perkuliahan serta Ibu ku yang sedang menderita kanker stadium 3. Tapi keramahan orang-orang disekelilingku membuat beban ku sedikit ringan. Niatanku untuk menjadi dokter terpaksa ku kuburkan sebelumnya, karena keterbatasa biaya yang memungkinkanku hanya sampai pada tamatan SMA , dan niatan itu ku tanamkan pada salah satu adik ku Jihan yang ku tekankan untuk berkuliah di salah satu sekolah tinggi kedokteran.
Beberapa minggu berselang kemudian aku mendapatkan pesan dari menejer perusahaan untuk menghadiri kegiatan seminar di Singapura. Seminggu kemudian Aku dan beberapa rekan Ku berangkat ke Singapura untuk menghadiri acara seminar. Didalam perjalanan semua rekan ku merasa gembira karena ini merupakan kali pertama mereka bepergian ke singapura begitu juga denganku, namun terkadang kegembiraan ini selalu terselimuti oleh rasa kekecewaan yang mendalam yang masih tertata rapi dalam pikiran ku. Wajah suram membuat “Riko” salah satu rekan yang akrab dengan ku merasa penasaran dengan waja suram ku.
Dia bertanya selagi menatap dengan wajah terheran.
“ Fan, wajahmu suram sekali, apa kamu tidak gembira? Ini kan pertama kali kita ke luar negeri?”
“aku sangat gembira kok, hanya sedikit takut akan ketinggian karena ini pertamanya kali aku naik pesawat terbang”. jawab ku sembari menutup luka di hati yang kian melebar.
Beberapa jam kemudian kami pun tiba di Singapura,
Pernah hatiku berkata “jika aku bertemu lagi dengan para penjelmaan Hawa yang pernah menitipkan luka pada ku, maka aku akan memberikan senyuman terbaik ku pada mereka dan berusaha menutup rasa amarah ku”
keesokan harinya Aku dan rombongan menuju tempat seminar di salah satu hotel megah yang ada di ibu kota singapura. Bah istana rupanya, hingga kaki ku terasa berat untuk mengijak lantainya.
Setelah beberapa hari mengikuti seminar rekan-rekanku menajak untuk jalan-jalan mengellingi kota sembari berbelanja oleh-oleh untuk keluarga. Sesampai di sebuah pusat perbelanjaan tak ku sangka Aku bertemu dengan wanita yang selama ini membuatku termenung dalam kegelisahan yang saat itu sedang menikmati bulan madunya bersama lelaki yang kala itu memikatnya dari ku.
Sontak Nadia pun terkaget saat melihatku.
“ii’iffan? Sedang apa kamu di sini?” Menyapa dengan  retorika penuh kegugupan.
“aku dan beberapa rekan kerja sedang mengikuti kegiatan seminar di sini”. jawabku dengan wajah di hiasi senyuman walau hati ku terombak kekesalan yang berantakan. Namun berusaha untuk tetap tenang dan menahan api kekecewaan. Sembari membalas tanyanya.
“Bagaimana kabar mu?”
“a’aku baik-baik saja, tapi maaf a’a’aku harus p’p’ergi” jawabnya dengan penuh kegugupan dan ketakutan atas apa yang telah dia lakukan sebelumnya pada ku. Lalu pergi bersama lelaki yang kini menjadi suaminya.
Tapi dari hati ku yang paling dalam aku selalu teringat kenangan dulu bersamanya walau pernah disakiti namun cinta ini terlalu kuat kepadanya sehingga amarah ku padanya seakan tak berguna karena aku pikiran ku selalu terkonstruk akan dirinya.
Sepulangku ke Yokjakarta, aku menjalankan pekerjaanku seperti biasanya, namun bertambah parahnya penyakit ibu membuat ku sesekali bolak-balik rumah sakit setiap hari untuk menyisihkan waktu menengoknya walaupun ada kakak perempuan ku yang menjaganya. Di tambah lagi dengan adik ku jihan yang juga sedang membutuhkan banyak uang untuk studi akhirnya.
Sesekali aku mengeluh pada sang Maha Pencipta, entah seberapa besar kesalahan ku hingga bertubi-bertubi cobaan kau limpahkan pada diri yang lemah ini. Jika cobaan ini hanya untuk membuat aku dewasa dalam berfikir dan bertindak, maka niscaya ku terima cobaan ini sebagai sebuah rahmat dari Tuhan.
Satu bulan kemudian kantor ku di buat ramai dengan kedatangan seorang karyawan baru dari Jakarta. Seorang penulis ulung berparas cantik, biru matanya membuat para pujangga di kantorku kian terpesona dengannya, begitu juga dengan ku. Luka ku terasa hilang sesaat ketika pertama berpapasaan dengannya. Yang kala itu tidak sengaja aku bertabrakan tubuh dengannya.
“maaf, aku tidak sengaja” .
maafku padanya karena bertabrakan, namun penuh kegugupan dan dan serasa dadaku membengkak karena detakan jantung yang begitu cepat. Ada apa sebenarnya dengan wanita ini. Sontak dia langsung pergi dengan wajah suram, entah dengan amarah ataukah mungkin dia hanya menyembunyikan rasa malu.
“huuhh, bermuka dua, sudah bisa kubaca psikisnya”. Kata ku sambil menarik nafas panjang dan ku hembuskan melalui mulut. Terkadang perempuan memang begitu pura-pura dengan amarah namun hatinya berbunga-bunga. Aku katakan begitu karena sedah ku amati selama bertahun-tahun setiap perempuan yang dekat dengan ku. Tapi sialnya Aku belum bisa menjalani hubungan yang serius bersama mereka.
Tapi suasanaku terasa sangat berbeda jauh sebelumnya ketika wanita ini hadir. Rasa kecewa yang sebelumnya membara sedikit terkikis dengan paras wajah dan biru matanya. Fatimah namanya. Ku rasa cocok nama itu untuknya. pemalu, lemah lembut, santun dalam berbicara, walau terkadang wajahnya sesekali cemberut. Karena pernah aku membaca sebuah buku karangan Dr. Ali Syariti Ku rasa itu mungkin gambaran dari Fatimah Az-Zahra puteri Rasulullah.
“hah, dasar khayal”. Bisik ku dari dalam hati.
Lama-kelamaan hati ku serasa terpikat padanya. Apakah ini utusan sang maha cinta untuk menghapus tapak kaki ku yang kian bersarang itu. Namun, aku bimbang karena jika ku amati, ada seorang atasan ku yang juga tertarik padanya. Sungguh luar biasa  dengan  balutan jilbab panjangnya teryata meninggalkan kesan menawan pada setiap pujangga yang melihatnya. Kemudian coba ku utaraan perasaan suka namun bimbang ini pada Riko rekan yang selalu  setia mendengar ceritaku
“aku sepertinya sedang jatuh cinta dengan seseorang”.
kata ku padanya dengan perasaan sedikit ragu entah bagaimana tanggapanya.
“sudah ku tau itu, dari gerak gerik mu saja sudah mencerminkan itu” jawabnya dengan penuh ketahuan dia terhadap apa yang aku pikirkan.
Kusampaikan kebimbangan ini padanya, bahwa tidak mudah untuk memiliki Fatimah karena ada atasan ku yang sedang berdiri di depan pintu hati Fatimah.
Sontak dia menjawab “ pernahkah kau membaca kisah seekor laron? Yang kala itu sedang berputar-putar mengelilingi sebuah lentera, sesekali ia terus mendekat sampai coba menyentuhkan badanya pada lentera itu. Namun jatuh terhampar ke lantai, ia pun kembali bangkit walau separuh sayapnya hangus terbakar. Terus mendekat dan kembali menabrak lntera itu, akhirnya jatuh juga hingga sayapnya terbakar habis. Tapi sungguh luar biasa ketika ia kembali mendekati lentera walau hanya menggunakan ke enam kakinya untuk memanjat lentra itu”.
Bisa kita jadiakan kisah di atas sebagai cerminan bahwa sesunggunya itulah yang disebut dengan jatuh cinta. Sebuah perjuangan tanpa henti walau terkadang terdapat kerikil duri yang di tapaki.
Aku pun serasa lahir kembali dengan semangat yang baru. Dan kala itu ku terus berusaha mendekati dan melupakan semua masa laluku yang suram itu. walau terkadang aku harus bertabrakan emosional dengan orang-orang yang sama tujuannya dengan ku. Satu hal yang ku dapatkan dari semua ini adalah aku belajar untuk mendewasakan diri dari segala sesuatu yang mengganjalkan Aku, belajar untuk mengasah perjuangan dan menyeleksi diri hingga sampai pada taraf tertinggi yaitu CINTA.