Maukah kau menapak ke hunianku sekedar memungut cerita bisu yang terkubur tanpa nisan tepat saat lafadz "pe-lepas-an" dihaturkan, kala itu?
Aku hanya lelaki berbau ayam kampung, punya sepetak bidang lahan yg tak sberapa luas. Hanya beberapa bedengan kcil yg ditumbuhi sayur dan cabai.. Tanaman singkong dan tebu menjadi pagar pembatas halaman, rumah berdinding anyaman tikar, beratap rumbia.
Maukah kau kuajak kesini, sayang?
Genggam tanganku erat2 kau kan kubawa berlari menerjang ilalang, hutan, laut, terjalnya bebatuan.
Ingatkah kau dengan saat itu?
Aku kan mengulang kata-kataku...
Kala mentari mulai merekah, maukah kau temaniku menyeduh teh bersama? sambil memandang kedua bola matamu yang mungil itu lebih lama, kita bercanda tentang khayalan kita dan merci, lamborgini, hotel berbintang, keramik, kolam renang, aquarium raksasa mas koki, kursi santai dekat perapian.
Saat matahari sejengkal naik, maukah kau temaniku ke hutan? mencari beberapa bakul sagu dan kelapa untuk kita makan nanti malam.
Tak perlu harus ke kebun binatang untuk sekedar melihat kunang-kunang, Di hutan kita kan dihiburi dengan bintik2 cahaya mentari yg tembus malu2 diantara dedaunan, bintik cahaya berukuran kepalan tangan yang jatuh tepat di atas tanah, diantara daun dan ranting kering ..
Mari sini sayang,, bantu aku memungut ranting-ranting kering ini untuk dijadikan kayu bakar pada tungku sederhana yang kubuat dari batu cadas dari sungai itu...
Saat matahari membengkok ke barat, aku berbau asin.. Maukah kau temaniku ke laut? Mengambil beberapa akar bakau untuk kita jadikan telunjuk pada pengajian malam nanti...
Aku memang tak punya apa-apa. Hanya kupiah dan sajadah. Kata mama itu lebih dari segalanya.. Maukah kau amini? Mari sini sayang, bantu aku menerbangkan doa2 ini ke langit setelah kita bermunajah dalam sujud di pelataran sajadah?
Saat berpapasan dengan tetangga, kau menegur, dibalas tegur oleh mereka dari balik kaca riben merci.. Kenapa harus malu sayang? Aku tahu, kalau aku hanya punya sebuah gerobak dan seekor sapi yg biasanya kita pakai jalan-jalan ke hutan mengambil beberapa bakul sagu, kelapa, rating kering, dan melihat kunang-kunang d atas tanah... Tapi aku tetap bersyukur karena setidaknya kita tak pernah kekurangan karena masih punya, sajadah, kupiah, qur'an, akar bakau, kemenyan, Tuhan...
Kau tahu apa yang kurindui??
Aku rindu lekukan kerut jidatmu.. Heran.
Aku rindu lentikan daun matamu, sayup... dgn indahnya kedua bola mata mungil, indah.
Aku rindu bentuk sapa telunjukmu, tegas...
Aku rindu nada gersangmu yang memecah malam, membasahi gelap kerontang. Apalagi saat doa2 yang kuterbangkan ke langit bersama sejuta harap kau amini dgn nada penyerahan total, ikhlas...
Saat malam kita kan bertemaran dgn pelita kecil yg kubuat dri botol bekas minuman ringan yg telah diberi sumbu dan minyak.. Tapi tenanglah kita masih punya ikhlas yg selalu menemani gelapnya kita, gelapnya hati krna tertutup "ingin", dusta, bebal.. Kau tahu, Kita kan melewati garang geramnya hidup.
Kasih...Aku yang kian kemari berdiam di tepi kata yang padamu tak dapat kukatakan..
Aku kian berpenghujung yang padamu tak lagi dapat kubahasakan...
Tapi Rindu ini semakin memilu
Saat asa dikuliti nestapa tepat diujung lintasan pertautan, disitu sahut bergayuh pelan , kemudian mnghilang, kemudian lenyap. Lalu kau pun beranjak tak sempat berbalik badan.
Kini, kata hanya bisa kuperas dalam genggaman imaji, atau utk kelihaian mentinta atas luapan emosi dalam dada.
Aku masih dapat berbuat banyak.. Kalau hanya memvonis keuletan dan kesungguhan dalam merunut kehendak, berkali kali dapat kulakukan. Tapi apakah santunmu dapat menjembatani cerita kita diantara rumbia, bintang, fajar, langit sore, laut, hutan, munajat, singkong? Atau tentang khayalan kita tentang merci, lamborgini, keramik hotel berbintang, kolam renang, mas koki dalam aquarium raksasa, kursi santai dekat perapian?
Smoga jabatan tangan dan pelukan ini mengawetkan ke-kita-an, dalam mengasah cadasnya diri untuk mengekang pun memasung ego.
Sayang... Sebab diam tak berarti selalu meng-iya
Sebab aku tak sedang ingin blusukan
Sebab aku tak sedang ingin bepergian
Sebab aku sedang bermukim dihunian menikmati sedu sedan dan kemenduaan dalam diam..
Sebab terlampau sering dalam keceriaan memberi salam dengan senyum dan kepura-puraan.
Sebab aku masih sangat rindu disini, kalaupun harus menepi di tengah sepi yang ramai berpenghuni. Aku kan selalu memperhatikan, sambil menampik kecerobohanku agar tak menilik hati dan perasaanmu. Bahkan jika itu sukar sungguh, aku kan tetap meringkuh penuh seluruh.
Tapi....
Aku muak!! Telapakkan amarah, dan hentikan egomu di pelataran asmara, kasih..
Semoga sja kau masih sangat hafal dengan nyanyian sembilu yang pernah sama-sama kita debarkan dulu...
Bahwa
Jika salah, perbaiki!
Jika gagal, coba lagi!
Namu jika menyerah, Selesai!
Kasih... Jika tak sempat kau rindui, ambillah sepucuk kertas putih diatas sajadahku yang kutindih dengan kupiah hitam pemberianmu...
Kalau kau masih tak sempat membacanya....
Simpan saja ini baik-baik sayang..