Selasa, 25 April 2017

Sastra cyberg

Air Seni
Oleh: Darwan Humah
Orang-orang berkumis dan bertopi baret ala seniman mulai memadati jalan-jalan kota. Mereka bermunculan dengan cara masing-masing. Ada dengan memperkenalkan lukisan yang hanya menggunakan satu warna, ada pula dengan membumbui lukisan mereka dengan aneka warna. Bahkan cara mereka melukis atau sekedar memvariasi warna pun berbeda. Ada dengan melempar cat pada permukaan kanvas, dengan menggunakan kuas dengan ukuran besar-kecil tergantung pada apa yang hendak dibuat (imajinasi) pelukis, bahkan sampai dengan menggunakan lidah sebagai pengganti kuas. Cara-cara melukis itu semata-mata bertujuan menciptakan penawaran harga yang lebih tinggi atau untuk menciptakan permintaan pasar produksi yang lebih. Orang-orang berkerumun menyaksikan pertunjukan tersebut yang mirip dengan akrobatik para badut yang ada di pasar malam.
Sewaktu berjalan melewati emperan toko, Riski bersama kedua orang temannya dikagetkan dengan kerumunan tersebut. Mereka bertiga hendak mencari buku yang membahas persoalan seni dan tema-tema seputaran kemanusiaan sebagai referensi atas tugas makalah yang disuguhkan dosen mereka , profesor Goufrim Guru Besar Antropolinguistik Fakultas Sastra.
Kelopak Riski tertuju pada seorang seniman yang berlapak tepat di persimpangan jalan, berdekatan dengan toko buku tempat tujuan mereka. Sempat mencuri berjuta pasang mata, akrobat seniman jalanan itu mendapat tepuk tangan yang banyak lantaran ia melukis dengan menggunakan lidah. Umumnya tema-tema yang mereka pasung dalam lukisan-lukisan tersebut bercerita tentang kemanusiaan. “warna lukisan itu sangat indah”, salut Isto yang berada di samping kanan Riski. “campuran warna yang pas”, lanjut Isra yang berada disamping kiri Riski sambil mengacungkan jempol kanan ke arah lukisan itu.
“Bukankah tulisan yang merupakan pemadatan kata adalah pereduksian dari hal yang sifatnya referensial (gambar itu sendiri)”?, “bukankah lukisan atau melukis membawa peranserta pikiran dan perasaan pembuatnya”? tanya Riski kepada Isra. “Tentu saja mereka paham dengan apa yang mereka lakukan”, sahut Isra. “Lalu apa yang lebih kau perhatikan ketika menyaksikan lukisan ini”? tanya Riski sambil menunjuk ke arah lukisan tersebut. “Tentu saja warna yang beragam yang membuat kedua mataku nyaman”.
Lorong-lorong sempit tempat berdomisili tikus dan kecoak ditambah bangunan kumuh yang terbuat dari kardus bekas, berdesakan, berhimpit dengan bangunan bertingkat  seakan melototi mereka bertiga yang kala itu sedang lewat. “begitu megah bangunan ini”, Salut Isra. “aku pasti bisa menempati bangunan itu kelak”, lanjut Isto. “bangunan ini seakan mendakwah bengis, ia seperti berbicara kepadaku bahwa penghuninya sedang bersantai dengan jus apel di sampingnya”, terka Riski di dalam hati. Sepanjang lorong itu, terpampang  lukisan dan tulisan yang menggelitik jidat dan perasaan Riski, tiga dari sekian banyak tulisan yang membuat langkahnya terhenti, diantaranya “MERDEKA 100 %”, “MALU PUNYA RASA MALU”, “PENGHUNI SURGA”, membuat kepala Riski sejenak tertunduk seakan ia memberikan penghormatan yang besar pada karangan tanpa pengarang yang terpampang disepanjang tembok lorong itu.
Begitupun para pembeli yang berdesakan ditengah kerumunan itu. Mereka tidak memperdulikan apakah lukisan itu mengilustrasikan hal-hal yang membuat mereka nyaman, atau sekedar menyenangkan kedua bola mata mereka dengan aneka warna yang mengitari besarnya kanvas. Mereka hanya memperdulikan SIAPA yang membuat lukisan itu. Jika seniman itu memiliki prestise, terkonsekrasi dengan baik, dan memiliki ketersohoran yang cukup besar di mata publik membuat para pembeli berburu lukisan-lukisan tersebut. Dan ini menjadi sebuah ajang mengerikan lantaran kesempatan seperti itu membuat para seniman berburu nama, dan tentunya berburu uang.

Riski kuliah di Fakultas Sastra pada program studi Ilmu Sejarah. Isto pada program studi Antropologi sosial, ia merupakan yunior dan beda satu tingkat dengan Isra. Para profesor, dan sebagian dosen yang dianggap memiliki kemampuan setingkat profesor oleh sebagian mahasiswa, atau tenaga pengajar kurang profesional yang menganggap diri mereka sebagai “profesor” sering kali mengeluh dalam konvensi  “ketersinggungan” yang mereka lakukan tiga bulan sekali. Rapat yang bertujuan memaksimalisasi proses belajar dengan mengacu kepada kurikulum belajar yang bersumber pada kontemplasi tolol mendikbud dalam kamarnya yang berukuran 10x10 meter.
“Aku punya sesuatu yang bisa kau jadikan instrumen untuk menyatakan perasaanmu”, jawab Zoo sambil merogoh saku kanan ranselnya. “bukankah itu air mineral”? Tanya Riski dengan nada tegas. “Beberapa menit kedepan air ini bukan lagi air mineral, tapi ia akan berubah menjadi AIR SENI”, jawab Zoo. “Bagaimana mungkin”? tanya Riski dengan nada heran. “Air ini akan kau pakai untuk menggambarkan sesuatu di tanah kering itu”. “Sekarang gambarlah sesuatu yang mewakili perasaanmu kepadanya agar ia dapat mengerti apa yang kau rasakan”. Dengan gegas Riski menulis nama profesor. Namun air yang ia gunakan telah habis sebelum ia selesai menulis nama profesor. Dengan sigap ia membuka resleting celananya dan lanjut mengukir nama profesor dengan air seninya.
aku yang kala itu sedang memperhatikan Riski hanya tersenyum  bangga melihat  atraksi seni temanku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar