Sabtu, 11 Agustus 2018

Mandalawangi 
Oleh: ILSyam 


Suatu saat aku akan mendayung..
Mendayung sampan rindu yang kala itu pernah ku simpan untuk kita..
Suatu saat aku akan mengayuh..
Ku kayuh sepeda rasa yang kala itu ku hadirkan untuk kita..
Hingga nanti aku akan berlari..
Berlari menjemput angan yang dibawa angin..
Dan aku akan berjalan hingga tiba ke mandalawangi...
Di situlah  ku temukan kita yang menuai kasih..

12 agustus 2018

Sabtu, 04 Agustus 2018

Bimbang
Oleh:
Wiwi purwasih



Pada selembar kertas putih ini, apa yang harus ku tulis..
Rasanya sungkan menyampaikan pertanyaan filosofis terhadap benda mati..

Aku tak pandai memulai apalagi mengakhirinya..
Ketika tanganku mulai menulis apa yang ingin ku sampaikan, hilang begitu saja dan sesekali kembali menegurku..

Aku dibuat bingung dengan logika ku sendiri..
Tentang rindu yang menanti kesetiaan..

Mengapa pertanyaan itu selalu mencekik ku..

Ataukah aku benar-benar hilang dengan logika ku sendiri..

Bukankah dunia adalah ayat-ayat yang diperlihatkan karena kesetiaannya kepada cinta langit..
Lalu mengapa ada cinta yang lain..
Mungkin ini merupakan inti dari tingkah dimalamku yang tak berujung..

Kadang aku bertanya, untuk apa cinta dibumi ketika ada cinta dilangit..
Di lain pihak, andai bukan karena cinta bumi, aku tak akan mencintai cinta langit..

Aku dibimbing oleh cinta bumi kepada cinta langit..
Aku merasakan cinta berkat kasih yang dibumi..

Mengenal kekasih sejati dengan iman..
Aku berhutang budi kepada cinta bumi..
Tapi, dengan adanya kekasih sejati, aku tak butuh kekasih yang lain..
Keindahan-Nya telah memenuhi hatiku..
Hingga tak menyisahkan tempat bagi selain-Nya..

Aku takut dihukum karena menempatkan dua cinta dalam satu hati..
Namun, cinta bumi adalah utusan-Nya..
Bisakah aku mencintai-Nya, tapi tak mencintai utusan-Nya..

Aku tak bisa lagi mempertahankan cinta langit dalam hatiku sambil mengabaikan kasih sayang dari utusan-Nya..

Paksaan tak ada gunanya, jika tak ada cinta..
Tetapi, selalu ada kaitan tak terpisahkan antara cinta bumi dan cinta langit..

Kata mereka, jangan bimbang..
Cinta yang membimbingku kepada cinta-Nya adalah suci..
Syaratnya, cinta bumi tidak melalaikan ku dari cinta langit..

#04agustus18
#rumputliar

Sabtu, 28 Juli 2018

Standar kesadaran 
Oleh : 
Wiwi Purwasih A. Dodengo



     Dikisahkan ada seorang gadis tangguh yang sedang berpetualang melawan dirinya sendiri. Demi keutuhan dirinya, gadis itu mengorbankan semua yang dimilikinya bahkan kesetiaan pun gadis malang itu tidak mau melakukannya. Baginya, kesetiaan hanya bisa dilakukan apabila dia sudah memiliki kemampuan untuk merasakan getaran jiwa yang luar biasa dan tidak seorang pun memilikinya. 

     Gadis itu sangat bodoh tidak bisa melakukan apapun selalu bertingkah konyol untuk menghibur dirinya. Dia tidak tahu berbicara sopan karena menurutnya, kejujuran adalah hal yang paling utama dalam mengutarakan pendapat yang sesuai dan yang tidak bisa diterima oleh orang lain. Namun ada salah satu keunikan yang dimilikinya. Dia mampu melukai orang tanpa merasakan sakit. Baginya adalah wajar karena dia tidak akan memikirkan hal yang pantas diterima oleh orang yang disakitinya. Manusia zaman sekarang harus dilukai sebanyak mungkin, mereka hanya perlu berobat, tapi mereka tidak tahu obat yang paling ampuh untuk menghilangkan rasa sakit yang sedang diderita. 

     Sangat disayangkan apabila hidup bergembira didalam gelapnya pemikiran sendiri. Gadis itu mulai resah dengan kesadaran yang tak kunjung sadar, dia mengulurkan tangan terhadap siapapun yang dijumpainya, namun tidak ada satu pun orang yang bersedia menerima pertolongannya. Pada akhirnya dia memutuskan untuk melakukan berbagai cara dengan penyamarannya. Gadis malang itu mulai beradaptasi dengan keadaan semua orang yang membutuhkannya. Dia tidak mengakui kalau dirinya memang benar karena dia yakin, kebenaran hanya milik sang maha tunggal. Tidak perlu menjadi tuhan dalam hal ini gadis malang itu hanya menggenggam kemurniannya untuk memanusiakan dirinya. Apa yang dilihat merupakan sebuah instrumen yang indah apabila dipadukan dengan berbagai rasa yang ada, maka itu sangat bermanfaat untuk ketertinggalannya dalam memenangkan pertarungan. 

     Seperti yang disabdakan rasulullah melalui gadis itu "Tidak ada perang yang lebih hebat melainkan perang melawan diri sendiri". Apa yang dilawan? Tidak lain adalah nafsu yang selalu menipu manusia disetiap keadaannya. Dia tidak suka berteori sambil bebicara sebanyak yang dilakukan oleh para ilmuan atau orang-orang hebat lainnya. Untuk apa semua itu? Rasanya tidak mungkin bisa dilakukan oleh gadis malang itu. Dia sendiri pun tidak mau menyadari bahwa potensi yang dimilikinya akan mengantarkan dia ke suatu tempat yang tak bisa dibayangkan olehnya. 

     Dikeramaian gadis malang itu terus merenung. Hatinya berbisik lirih menghiburnya. Namun, hanya kesendirian yang dialaminya lagi dan lagi dia bersembunyi didalam hatinya yang mendung karena membiarkan orang yang dikasihi meninggalkannya demi kesenangan yang menipu. Oh.. Apalah arti ketulusan ini bila yang membeku tak dapat dicairkan. Gadis itu sangat malu dengan dirinya. Kini dia hanya bisa menangis, bahkan dengan kesendiriannya dia pun membuat topeng agar tak seorang pun mengetahui keadaannya yang resah akibat perbuatan mereka yang tidak mau berpikir dengan segenap perasaan. 

     Gadis malang dengan wujud ketangguhan memiliki perasaan yang sangat dinanti-nantikan semua orang. Menjadi manusia yang berperasaan halus dengan kemampuan dibawah rata-rata sangatlah sulit, terlebih dia membutuhkan se
seorang yang akan membimbingnya untuk mengendalikan kelebihannya yang setiap saat akan membahayakan nasibnya. Dia pun berharap seseorang itu adalah dirinya. Dalam hal ini dia tidak memerlukan objek, tetapi perasaannya sendiri karena kesetiaan itu adalah dirinya bukan selain dirinya.

_Rumputliar

Jumat, 01 September 2017

KEBENARAN KATANYA

   Agama merupaka suatu sistem kepercayaan yang diyakini oleh setiap pngikutnya. Dalam setiap agama selalu ada aturan-aturan yang mengikat pengikutnya dan aturan itu mutlak dan harus di patuhi  setiap pemeluknya. Doktrinitas dalam agama selalu dilakukan dengan selalu megklaim dan menjastifikasi sistem kepercyaan yang satu dan lainya, padhal  jika di telaah lebih kedalam ternyata yang dituju oleh setiap agama hanyalah satu, Tuhan.
Kebernaran seringkali di pertentangkan oleh setiap agama untuk menyakinkan setiap pemeluknya. Dan hal itu semata-mata hanya untuk menambah kuantitas pemeluknya. Apakah agama adalah sebuah organisasi yang memiliki program untuk menambah anggota? Sebuah pertanyaan tidak masuk akal yang harus di jawab oleh setiap agama yang mempertahankan kenenaran mereka dan menganggap kebenaran mereka yang paling benar dan diyakini pemeluknya, padahal pemeluk agma lain tidak meyakini kebenaran mereka.
Islam dengan para imam-imam besarnya sebagai pemimpin agama, Kristen dengan paulus dan dan para pendetanya sebagai pemimpinnya, budha dengan para biksunya dan lain-lain semata-mata hanya untuk menyampaikan kebenaran dari kepercayaan mereka. Sebenarnya, apa kebenaran yang diyakini oleh semua umat dan tak ada satupun yang meragukan kebenaran tersebut?
Dalam sebuah pertemuan akbar di wilaya timur eropa dipertemukan berbagai pemuka-pemuka besar berbagai agama untuk memproklamasikan kebenaran-kebenaran agama mereka yang mereka anggap paling benar. Pemuka Kristen mulai melontarkan berbagai kebenarannya “Kristen adalah agama kebenaran yang dibawa yesus, setiap dosa yang dilakukan oleh pengikut Kristen akan ada yang namanya penebusan dan penghapusan dosa oleh Bapa ”. Sontak umat islam merespon bahwa dosa tetaplah dosa dan hanya bisa ditebus di akhirat (neraka). Begitu pula agama lainya dengan tanggapan yang berbeda-beda.
Kemudian giliran umat islam memproklamasikan kebenaranya “ islam adalah agama kebenaran, islam mempercyai bahwa nantinya akan ada hari kiamat sebagai tanda berakhinya dunia”.umat Kristen, budha, yahudi, dan lainya langsung membantah bahwa itu tidak benar karena tidak ada yang namanya kiamat atau akhir dari dunia, karena dunia akan terus berlanjut karena adanya regenerasi manusia yang berkelanjutan. Islam kembali membanta dengan melontarka beberapa ayat Al-Quran untuk meyakinkan mereka bahawa kedatangan kiamat sebuah kebenaran yang harus diyakini. Tetap saja mereka tidak meyakini dan mempertahankan kebenarnya.
Sampai pada yahudi yang menyatakan bahwa” yahwe tuhan mereka dan pada suatu waktu dia akan turun dan menyelamatkan mereka dari segala keburukan dan memusnahkan kaum yang menistakanya” lagi-lagi tidak ada satu agama pun yang mempercayainya dan selalu menentang kebenran tersebut. Begitupun dengan budha, hindu, konghuchu dan lainya yang terus menyampaikan kebenaran-kebenaran mereka, dan selalu dipatahkan oleh agama lainya.
Sebenarnya yang apa yang diinginkan oleh setiap agama, apa mereka menginkan agal seluruh umat manusia mengikuti kebenarannya, sedangkan kebenaran mereka tidak bisa dibuktikan secara real dan logis. Hanya saja kelihayan mereka dalam melakukan doktrinitas sehingga para pemeluknya dengan mudah mengikutinyanya. Dan apa sebenarnya kebenaran yang di akui dan diyakini oleh setiap umat yang tidak ada satu manusia pun yang meragukan hal itu?
Setelah sekian lama saling berdebat dan menjastifikasi antara satu dengan lainya, suasana pun memanas dan hampir menimbulkan konflik.
Kemudian muncul seorang pak tuah berambut kusam berjanggut panjang “ Aku Elias, aku tidak mempercayai agama apapun (atheis) tetapi aku berTuhan, dan Tuhanku muak melihat kalian mempertentangkan kebenaran kalian yang pada akhirnya  tidak ada yang mau meyakininya” untaian si Elias. “kalau  begitu kebenaran apa yang kau punya pak tuah sehingga kau tidak meyakini kebenaran kami ??” respon dari berbagai pemuka agama.
“Sesunggunya satu-satunya kebenaran yang di akui dan diyakini oleh seluruh umat manusia ialah KEMATIAN dan tiada satu makhluk pun yang meragukan hal itu” jawab Elias. Mereka pun terdiam dan hanya memandangnya dengan pikiran kosong.!!!

Penulis : Junfahriel

Selasa, 15 Agustus 2017

DIRGAHAYU ANAK KAMPONG

   Saat gembala sunyi mulai menapak dijalanan dan para serdadu fajar berjeloteh di singgahsana. Anak-anak kampong bersila sembari menuangkan gagasan pada saat itu 27 juli 2017.

   Pada selembar kertas mereka berbicara dan mengkritik. Bicara tentang kemerdekaan dan keberadaan. Mengusung strategi penyatuan masyarakat dan pembaharuan dalam segala hal.

    Menanti jalan sederhana dalam peringatan. Walau berjalan dalam sepi tanpa sumbangsi kebanyakan orang.

   Malam itu Ijal kemudian membuka bicara tentang eksistensi, Ijan mengatur soal pergerakan dan Abjan mengosulidasi para kawan untuk bergabung, serta Rizal sedikit berkomedi ditengah-tengah keseriusan, katanya biar tidak tegang.

    Wacana mulai mengalir jauh hingga membentuk sebuah kesepakatan. Mengusung struktur kecil sebagai pawang koordinasi.

    Berselang beberapa hari anak kampong mulai bersua untuk mengolak jiwa dan raga. Kecaman dan kontradiksi oleh sebagian orang dijadikan motivasi dan pelajaran.

     Kata ijal.
    "Itikat baik pasti ada jalan"
     Kata ijan
    "awali dengan hati yang suci"
     Kata ilos
     "Ketika sudah memulai harus berjalan sampai akhir"
      Kata abjan
      "Saatnya berkarya dan mengingat sejarah"

    Kesemuanya kita rangkum dalam satu slogan
     "Maku waje, maku sogise, maku gosa laha-laha se soninga ngone na budaya"

    Slogan penyatuan dan pengingat akan budaya kearifan. Mengingat akan masa lalu, masa kedatangan para tatua hingga masa perjuangan sang merah putih.

    Tanah dodomi anak kampong, tanah adat se atoran, tanah kita semua dibesarkan.

   berkomitmen menuju perubahan
Bekerjasama untuk indonesia. Dirgahayu indonesia, dirgahayu merah putih, dirgahayu anak kampong.

Catatan Anak kampong

Rabu, 21 Juni 2017

OBOR HARMONIS

   Ketika saya beranjak pada usia 6 tahun. Saya ingat ketika itu kaka mengajak saya berjalan keliling kampung sembari memegang obor di tangan kanan. Kiri, kanan, depan, belakang, semuanya terhiasi hiasi obor di depan rumah.

   Malam ke-26 Ramadan. Malam kami menyambut lailatul qadar. Berjalan dengan lantunan kalimat takbir dan penuh kebahagiaan. Walau sebetulnya kami tau belum tentu pada malam ini adalah lailatul qadar. Namun, inilah kami dan budaya serta adat-istiadat.

  Seiring berjalannya waktu, dipengaruhi oleh modernisasi jaman, tradisi kami mulai redup. Kami bahkan lupa akan 26 malam ramadan kala itu. Hanya asik main gadged, atau sekedar jalan tak karuan.

  Berlangsung beberapa waktu dengan keredupan yang sama. Hanya terdengar riuk petasan dan kembang api saja.

    Risau kami akan keadaan membuat kami sekelompok pelajar yang tak terlau terpelajar mencoba membangkitkan aura kema'rufan itu.

   Alhasil, malam ini di tanggal 21 juni bertepatan dengan malam ke-26 ramadan, tradisi yang sempat redup akhirnya kembali menggema. Mencuat semangat generasi muda (anak kampong) yang berujung pada gema takbir dan pawai obor keliling kampung (lufu gam).

   Walau keberadaan ku saat ini berjarak dengan kampong. Tapi, aku tetap ada berasama anak-anak kampong dan bersorak gembira malam ini.
  
    Terima kasih untuk tidak melupakan tradisi orang tatua. Jadikan budaya dan adat-istiadat sebagai identias diri kita.

#anakkampong
#masabaca
#bukulasa

CATATAN DIAKHIR JUNI

   Semua orang punya mimpi. Punya pengharapan akan masa depan. Angan akan kebahagiaan dan ketentraman. Tapi, ada berbagai macam jalan yang harus dilewati. Entah jalan sunyi atau jalan ramai.

   Dari dua jalan tersebut dia memilih jalan yang sunyi. Jalan yang asing untuk sebagian orang. Jalan kesendirian dengan kertas dan pena sebagai teman.

    Menulis yang ia pilih. Dengan latar belakan sebagai mahasiswa sastra. Sering Ia berfikir, untuk apa kita berada dilingkungan sastra, tapi kita tidak punya karya sastra. Hanya bisa menilai, mengkritik, dan mengoceh karya orang lain.

   Gus Dur menggugat Tuhan. Gus Mus menggugat Indonesia. Tapi, kita malah menggugat mereka salah.

  Memang benar karya yang mereka buat dan dipublikasi, bukan lagi milik mereka. Tapi, milik kita sebagai pembaca, penilai, peninjau, bahkan pengkritik. Tapi, pernah kita pikirkan untuk apa tujuan kita melakukan itu? Hanya sekedar melakukan pembenaran.

   Kebenaran adalah sebuah cermin besar yang di jatuhkan oleh Tuhan ke bumi. Setiap dari kita mengambil sekeping kebenaran itu. Dan untuk apa kita saling beradu untuk melakukan pembenaran. Saling menentang bahkan bertikai mengatasnamakan Tuhan.
                         ****
    Ketika ada yang bertanya apa tujuanmu menulis?
    "Bagiku menulis bukanlah hanya sekedar menuangkan gagasan diatas kertas, bukan untuk kita tetap abadi dengan karya atau untuk diperjual-belikan. Aku menulis karena aku sadar aku masih bodoh" jawabnya.

    Orang akan bingung dengan jawaban seperti itu. Entah apa maksudnya. Mungkin kita butuh Wiliam Shaksaper untuk menafsirkan itu. Atau dengan pembenaran kita sendiri dan menganggap Dia benar-benar bodoh.

   Orang idealis memang sukar dengan jalan yang ramai. Tapi bagi mereka kesunyian adalah kebisingan yang luar biasa.
                        ****
     Mimpinya adalah kebahagiaan. Tapi bukan berarti hanya dirinya sendiri. Tapi untuk semesta alam.

    Kejenuhan terkadang membuatnya karam. Mimpinya mungkin terlalu tinggi. Tapi, tak ada salahnya juga. Tnggi mimpinya mungkin tingginya sejengkal dari tanah..

   Jenuh juga berada di jalan sunyi, yang dipikirkan mungkin masa depan. Seandainya masa depan bisa dilihat dan dinikmati sekarang. Dia tidak akan pernah berusaha. Karena itulah. Biarkan masa depan menjadi misteri sekaligus kejutan kala tiba waktunya.

   Dia pernah menyerah, kecewa bahkan kaku untuk beraktifitas. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang membangkitkan itu. Masih menjadi rahasia apa atau siapa. Manusiakah? Atau benda?
Tapi dia takan terjun ke lubang yang sama.

   "Hanya orang bodoh yang mau kembali pada kebodohannya, dan aku belum terlalu bodoh untuk kembali. Meninggalkan hal terbaiku saat ini. Kamu"
      Kurang lebih seperti itu.

     Mungkin yang membaca ini akan kebingungan. Alur, maksud, serta tujuan tulisannya. Karena saat menulis pun dia kebingungan.

    Sepertinya, dia sengaja mumbuatnya. Agar bisa dikritik pembaca. Tidak jenius, kreatif, atau imajinatif. Dia lebih pada apa adanya. Menyalurkan isi kepala dengan caranya sendiri. Dengan warna yang berbeda.
                       ****

     Bicara soal perbedaan. Dia juga mengalami perbedaan. Tapi, kalau mau dibahas nanti dibilang dia alay. Katanya perbedaan itu takan bisa disatukan. Perbedaan adalah perbedaan.

     Dia menjadikan perbedaan adalah awal dari penyatuaan. Kita sebagai manusia secara detil berda. Adakah manusia yang memiliki sidik jari yang mirip?

   "Perbedaan bukan perpisahan. Bukan akhir dari segalanya. Bukan sebagai bahan untuk memberi entitas. Segala hal yang berbeda jika disatukan, maka akan ada sesuatu hal yang baru. Biru dan kuning jika dipadukan menghasilkan hijau. Menghasilkan sebuah warna baru"

    Hargailah perbedaan sebagai persamaan. Mungkin itu maksudnya.
                     ****
   Mungkin samapi disini, Kita sudah lari jauh dari topik cerita. Begitulah orangnya. Dinamis tidak menjadikan tema sebagai fokus. Sering memadukan satu dengan lainnya. Bahkan hal yang banyak menganggap tidak masuk akal. Tapi, itukan akal mereka, bukan dia.

    Pelukis menggunakan cat dan kanvas untuk melukis seseorang. Dia hanya perlu merangkai kata untuk melukis. Kali ini dia melukis diri sendiri. Hal yang jarang dia lakukan sebelumnya. Sepertinya ada sesuatu. Sesuatu yang menyentuhnya untuk melukis diri sendiri. Hujan kah, senja atau apa. Sebenarnya hari ini..!!
Sebaiknya tidak dilanjutkan.

    Tokoh dibalik aktifitasnya sekarang ialah Jostein Gaarder. Tapi tulisan ini bukan  dipersembahkan untuk si penulis ulung tersebut tapi, ada seseorang. Orang tersebut pasti sudah banyak yang tau. Karena dia sudah berkali-kali melukisnya. Apa harus main tebak-tebakan. Cluenya adalah, wanita, E, dan D.

    Sekarang sudah sangat jauh, dan orang sudah mulai kebingungan dengan cerita ini. Sepertinya kita harus jeda dulu. Kita akan lanjutkan nanti, saat gema kebingungan pembaca hilang terlebih dahulu.
                      ****

   "Untuk hari ini. Hari dimana aku bertambah tua. Hari aku ini. tidak butuh kado, jam tangan, handpone baru, ataupun ucapan selamat. Yang ku butuhkan ialah kamu duduk di sampingku dan kita akan bercerita, sambil minum kopi atau capucino dingin mungkin. Tapi, jika kesemuanya dikasih. Aku akan lebih berterima kasih"

  "Terima kasih untuk semuanya. Untuk 27 November tahun lalu, hingga hari ini" (syamalila).