Selasa, 15 Agustus 2017

DIRGAHAYU ANAK KAMPONG

   Saat gembala sunyi mulai menapak dijalanan dan para serdadu fajar berjeloteh di singgahsana. Anak-anak kampong bersila sembari menuangkan gagasan pada saat itu 27 juli 2017.

   Pada selembar kertas mereka berbicara dan mengkritik. Bicara tentang kemerdekaan dan keberadaan. Mengusung strategi penyatuan masyarakat dan pembaharuan dalam segala hal.

    Menanti jalan sederhana dalam peringatan. Walau berjalan dalam sepi tanpa sumbangsi kebanyakan orang.

   Malam itu Ijal kemudian membuka bicara tentang eksistensi, Ijan mengatur soal pergerakan dan Abjan mengosulidasi para kawan untuk bergabung, serta Rizal sedikit berkomedi ditengah-tengah keseriusan, katanya biar tidak tegang.

    Wacana mulai mengalir jauh hingga membentuk sebuah kesepakatan. Mengusung struktur kecil sebagai pawang koordinasi.

    Berselang beberapa hari anak kampong mulai bersua untuk mengolak jiwa dan raga. Kecaman dan kontradiksi oleh sebagian orang dijadikan motivasi dan pelajaran.

     Kata ijal.
    "Itikat baik pasti ada jalan"
     Kata ijan
    "awali dengan hati yang suci"
     Kata ilos
     "Ketika sudah memulai harus berjalan sampai akhir"
      Kata abjan
      "Saatnya berkarya dan mengingat sejarah"

    Kesemuanya kita rangkum dalam satu slogan
     "Maku waje, maku sogise, maku gosa laha-laha se soninga ngone na budaya"

    Slogan penyatuan dan pengingat akan budaya kearifan. Mengingat akan masa lalu, masa kedatangan para tatua hingga masa perjuangan sang merah putih.

    Tanah dodomi anak kampong, tanah adat se atoran, tanah kita semua dibesarkan.

   berkomitmen menuju perubahan
Bekerjasama untuk indonesia. Dirgahayu indonesia, dirgahayu merah putih, dirgahayu anak kampong.

Catatan Anak kampong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar