WRITER BY : JUNFAHRIEL
"Sepulangku dari tempat kursus, melintasi keramaian sembari mengayun pelan sepeda ontel berwarna karat yang selalu menemani hari-hariku. Dalam perjalan aku merasa sedikit risih dengan bisingnya keramaian dan bau asap kenalpot serta pesingnya selokan-selokan jalan. "
Ketika melewati sebuah toko, hati Adnan serasa diketuk dengan palu melihat seorang nenek yang di caci bahkan di siram dengan air bekas cucian. Segera mendekat dan menenangkan. Entah kenapa ketika Adnan ajak bicara nenek itu meneriakinya
"kamu gila ya. Orang gila, orang gila, orang gila"sembari menepuk perlahan belah tangan yng sedikit kusam.
"Sadarku ternyata si nenek itu adalah orang gila. Mendengar itu, aku bergegas untuk pergi" gumam Adnan dalam hati.
Seminggu berselang Adnan berjalan mengelilingi kota tapi tidak dengan si karat cantiknya. Mengisi waktu libur sembari melihat fenomena-fenomena di perkotaan. Maklum Adnan orang baru di kota. Hanya anak desa yang besar dengan karya-karya sastra saja dan di panggil untuk bekerja salah satu media percetakan.
Sesekali Adnan harus memeluk hidungnya karena bau pesing yang menguap dari selokan-selokan yang tersumbat. Melihat beberapa pedagang asongan yang menjajalkan beberapa bungkus rokok dan pembersih telinga yang tertumpuk di atas kotak biru yang menggantung di atas bahu.
Tak di duga Adnan kembali bertemu si nenek gila itu, yang terlihat sedang duduk bersilah dan menyanyikan sebuah lagu yang tak tau jelas bahasanya dengan mengemnggam sebuah buku. Adnan bergegas menghampiri sambil menyumbat hidungnya yang tak tahan mencium bau pesing ke selokan.
Dari jarak sekitar 5 meter si nenek menoleh ke arah Adnan. sontak menghentikan nyanyiannya dan tertawa dengan malu-malu.
Ketika Adnan semakin mendekat
Si nenek menyembunyikan bukunya kedalam karung cokelatnya dan membuat Adnan semakin penasaran dengan buku tersebu. Maklumlah Adnan juga termasuk orang yang rakus dalam mengonsumsi buku.
"Nek.. Boleh saya duduk di sini" tanya Adnan dengan rasa canggung.
Nenek hanya menjawab dengan senyum dan menganggukan kepalanya.
Ketika Adnan hendak mengajak ngobrol si nenek, beliau dengan dengan gegas bernyanyi. Tapi, kali ini tidak dengan memegang buku bersampul hitam yang di simpannya tadi.
Dengan tenang Adnan mendengarkan nyanyian si nenek yang kedengaranya cukup bagus walaupun tak mengerti bahasa apa yang di nyanyikan.
Setelah bernyanyi, nenek pun menatap Adnan dan kali ini tanpa senyum.
"Bisa saya pinjam buku nenek yang tadi" tanya Adnan dengan raut wajah penuh rasa penasaran akan buku bersampul hitam itu.
Nenek menjawab dengan menggelengkan kepala pertanda dia tidak mau memperlihatkan bukunya pada Adnan.
Adnan pun mengalihkan pertanyaannya tadi dengan mengajak si nenek untuk ngobrol.
Lagi-lagi si nenek hanya merespon percakapan Adnan dengan gelengan dan anggukan anggukan kepala.
Tiba-tiba si nenek berdiri dan langsung berlari meninggalkan Adnan.
Ternyata penyebab si nenek pergi karena melihat cuaca yang sudah mendung pertanda hujan akan turun. Entak karena takut basah karena hujan atau mungkin saja tidak suka dengan air.
Saat Adnan hendak untuk pergi, tak sengaja dia melihat karung cokelat si nenek yang tergeletak di atas emperan toko. Saking paniknya si nenek sampai-sampai meninggalkan karungnya yang terlihat dari luar sedikit berisi.
Adnan pun mengambil karung itu dan membawanya ke kontrakan.
Dengan rasa penasaranya tadi Adnan perlahan membuka mulut karung cokelat itu.
Adnan pun kaget ketika melihat isi karung itu. Ternyata di dalam karung si nenek terdapat beberapa buah buku dan portfolio serta pesil alis.
Saat Adnan melihat isi buku hitam itu. Adnan langsung terheran dan takjub. Ternyata isi buku tersebut adalah kumpulan syair dan puisi dengan menggunakan bahasa melayu kuno yang saat ini sudah tidak lagi dipergunakan. Sedangkan portfolio itu berisikan tulisan-tulisan yang di tulis dengan pensil alis yang penuh magna, mungkin hanya orang-orang yang betul sastra yang bisa mengerti tulisan-tulisan ini.
" tidak pernah diduga sebelumnya, seorang nenek yang dianggap gila ternyata punya kemampuan sastrawi yang luar biasa " bicara Adnan dalam hati dengan penuh kagum.
"Terkadang kita sering menilai pribadi seseorang dengan hanya melihat tindakan dan sikapnya saja. Mungkin kita perlu lebih jelih untuk melihat seblum melakukan penilaian ataupun menilai diri sendiri terlebih dahulu. Teringat dengan pepatah, jangan lihat buku dari sampulnya" lanjut Adnan dengan raut wajah penuh senyum dan kagum.
(End)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar