Jam 1 siang adalah waktu terbaik untuk istirahat bagi sebagian orang. Kebanyakan menghabiskan menghabiskan waktu disaat mentari tepat di atas kepala untuk berlayar ke negeri mimpi. Tapi, Fahmi menjadikan waktu tengah hari untuk buku album dan pena sembari menulis syair-syair. dipenuhi dengan metafora kata di bawah pohon pinggir rumah.
Remaja 19 tahun ini gemar sekali menulis syair. Mungkin karena terekspresi oleh W. S. atau C. A. Orang-orang memanggilnya si alay karena beberapa syair yang dia tempel di mading kampus telihat sangat romantis.
Selain menuis syair ternyata Fahmi juga penikmat senja. Dia juga menempelkan beberapa foto kreasinya saat sanja mengadu.
Teringat Fahmi kalau hari ini adalah hari spesial untuk dia dan Sabilla. Dan sepertinya dia harus siapkan sesuatu untuk kekasihnya itu.
"Bill.. lagi di mana, bentar lihat senja yukk.. di pantai Tagalaya"
Tanya Fahmi.
"Aku lagi di kampus. Iya, boleh. Tapi, aku masih harus kuliah, kira-kira selsainya mungkin jam 5 atau 6"
"Gak apa-apa. Aku tungguin deh.. bisakan"
"Mmm. Gimananya.. aku usahain deh"
Jawab Sabilla dengan ragu.
"Yasudah.. ketemunya langsung di pantai ya, seperti biasa, tepat di bawah pohon ketapang"
Tuutt tuutt tuutt. Sabilla mematikan telepon tanpa basasi. Jidat Fahmi terlihat mengerut. Padahal ini anniversarr6y mereka yang ke 1th.
"Kok aneh. Biasanya dia nggak langsung matikan telepon saat masih bercakap. Apa dia lupa ya"
Gumam Fahmi sembari bergegas menuju pantai.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 6 tepat. Fahmi sudah 2 jam menunggu Sabilla di pantai. Namun, Sabilla belum lagi datang. Fahmi terlihat sedikit kecewa karena beberapa beberapa menit lagi senja akan muncul dan Sabilla belum lagi duduk di sampingnya.
Beberapa kali Fahmi menelpon Sabilla, tapi nomornya tidak bisa di hubungi. Mungkin hpnya kehabisan batrei atau dia sengaja mematikan hpnya biar nggak diganggu.
Stengah jam berlalu sang senja mulai muncul dan Sabilla belum lagi tiba.
"Kok dia tega nggak datang di saat seperti ini. Padahal ini senja terbaik dan tak ada secuil awan pun yang menutupi"
Ceracau Fahmi sambil melempar batu ke pantai, pertanda kecewa.
Sabilla belum juga datang dan lima menit lagi senja akan berlalu. Fahmi pun sudah memasukan album dan penanya kedalam tas dan bersiap untuk pulang. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat dari jauh seseorang berlari ke arahnya dan ternyata itu adalah Sabilla.
" Fahhmii.. maaf aku terlambat. Aku nggak lupa anniversarry kita kok. Tadi Aku harus berlari dari kampus ke sini. Aku gak bisa naik ojek. Hp sama dompetku hilang di kantin. Padahal kuliah ku sudah selesai jam 5 tadi Dan... haahh.."
Cerita Sabilla sambil menopang lutunya karena kelelahan saat berlari sekitar setengah kilo dari kampus menuju pantai.
"Trus kameranya mana. Kok gak bawa kamera. Ini kan moment terbaik kita"
Tanya Sabilla pada Fahmi dan terlihat sedikit kecewa.
" siniii. Duduk dulu"
Pinta Fahmi
Sabilla pun duduk di sampinya dengan raut wajah kecewa.
" tau nggak kenapa aku gak bawa kamera. Aku sengaja.
Terkadang ada moment yang terlalu indah untuk diabadikan dengan kamera, moment sepeti ini. Cukup kita abadikan dengan mata dan hati saja"
Jelas Fahmi sambil menepuk pelan bahu Sabilla dan memberikan sebuah novel karangan seorang penulis terkenal eropa yang berjudul "Nostalgia Senja"
Sabilla pun tersenyum.
"Betul juga, disayangin juga kalau diabadikan dengan kamera tapi gak pake hati percuma saja nggak kerasa. Kalau fotonya hilang abis deh gak ada yang bisa di kenang"
Sahut Sabilla.
Mereka pun menikmati jingganya senja dengan penuh hikmah akan keagungan sang pencipta. Walau hanya berlalu beberapa detik. Tapi, itu sudah cukup untuk ditulis di buku album dan di tempel ke mading seperti biasanya.
Good story
BalasHapusMakasi bu
HapusGood story
BalasHapus